Minggu, 25 November 2012

PERKENALAN SINGKAT

Minggu sore itu, sekitar pukul 3, kami bertemu, di sebuah warung bakso depan kampus BIFA (Bali International Flight Academy), di Blimbingsari tepatnya, Kecamatan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi. Hal pertama yang membuat kedua bola mata kami masing-masing saling bertatapan adalah aku melihat kalung Salib yang terpakai di lehernya dan dia melihat aku memakai kaos yang bertuliskan Jesus Christ, dan itulah mulai dari pandangan kami satu sama lain. Ketika itu, dia bertanya : "Maaf dek, kristen ya? mau tanya, gereja di dekat sini ada? Maklum, saya baru masuk ke kampus ini, dan tidak mengerti yang namanya daerah dekat sini." Jawabku :"kalau di dekat sini gak ada kak, kan soalnya sini daerah desa, adanya di Rogojampi." Balas tanyanya: "Rogojampi yang dari bandara itu lurus terus mengikuti jalan itu kan dek?" Jawabku: "Ia kak, terus setelah itu di pertigaan Kantor Pos, belok ke kanan, ikuti aja, ntar ada gereja di sebelah kiri jalan, itu juga gereja tempat aku beribadah, kalau ibadah paginya setiap pukul 06.30, kalau ibadah sorenya jam 6." Dia berkata kembali:"Wah, sayang ya, kalau tau gitu, tadi kan bisa ibadah pagi. Ya sudah, nanti aja ibadah sore. jam 6 kan? Masih ada waktu 3 jam buat siap-siap. Oh ia, nama adek siapa? kelas berapa? rumahnya di sini jugakah?". Jawabku:" namaku Levi kak, kelas 2 SMA, enggak kok, rumahku di Rogojampi, di sini cuma habis jalan-jalan dari pantai terus mampir makan deh di warung bakso ini." Katanya: "o, nama kakak, Petra, asalnya dari Solo sih, cuma sekolah di Bali, di BIFA, terus setelah 1 semester, dipindahkan kampus ke sini, sekalian untuk praktek juga." "jadi, kakak calon pilot ya?", kataku. Jawabnya dengan senyum lebar dan dengan tampang meyakinkan, "Ia donk, pastinya. Orang sekolahnya di akademi penerbangan, masak kan mau jadi tukang ojek dek? hahaha.." Setelah itu, kami berpisah, dia kembali ke kampusnya, dimana di kampusnya ada asrama yang ia tinggali, dan aku pulang ke rumah. Itulah, awal kami berkenalan. Sore harinya, aku pergi ke gereja, aku duduk di bangku nomor 4 dari belakang, jam dinding menunjukkan masih pukul enam kurang 10 menit, alunan piano mengiringi waktu saat teduh sebelum ibadah dimulai. Di situlah aku berdiam diri, berdoa, mempersiapkan hati untuk mengikuti ibadah. Sampai tepat jam 6, petugas liturgis masuk ke mimbar bersama pendeta yang akan menyampaikan khotbah. Semua jemaat berdiri, melantunkan lagu bagi kemuliaan nama Tuhan, "Sbab kau besar, perbuatan-Mu ajaib, tiada seperti Engkau, tiada seperti Engkau..................". Tiba-tiba, duduklah seorang lelaki muda di sebelahku, di bangku yang satu deret dengan aku, tinggi, putih, berkalungkan Salib, memakai kemeja kotak-kotak yang warnanya sama denganku. Sama-sama warna merah, hanya saja saat itu aku memakai dress polos. Dia segera duduk dan berdoa, kemudian berdiri dan menyanyi, mengikuti jalannya ibadah. Dia sempat menyapa aku, aku pun menyapanya dengan senyum pula. Saat itu, ketika warta jemaat disampaikan, adakah yang baru pertama kali hadir dan mengikuti ibadah ditempat ini, Kak Petra berdiri, memperkenalkan dirinya, "Nama saya Petra Setiawan, saya mahasiswa di BIFA-kampus Blimbingsari, asal dari Solo, mungkin tinggal sementara disini sampai saya menyelesaikan praktek disini, sekitar 1,5 tahun." Setelah ibadah selesai, kami berdua bercakap-cakap sembari keluar dari ruang ibadah. Kami perlahan menuju ke sepeda motor kami masing-masing, dimana sepeda motor kamipun bersebelahan. Tiba-tiba, "plok", ada putih-putih menetes di bahu Kak Petra, waw, sambutan pertama dari burung-burung yang tibggal di tiang listrik depan gereja, kotoran burung. Refleknya, "waw, kotoran. ada tissu?". Segera kuberikan tisu yang ada di dalam tasku, tidak cukup itu, dia pergi ke toilet untuk membersihkan kotoran itu dari bahunya, dan meninggalkan alkitabnya di sepedaku. Aku menunggunya di depan dengan tertawa, sebenarnya, aku ingin pulang, hanya saja, tanggungjawabku, karena ia membiarkan kunci motornya tetap ada di motornya, tanpa membawa kunci motor itu. Lantas, aku harus menunggunya sambil memastikan sepeda motornya tetap aman. Jam menunjukkan, pukul 8 malam, kami pulang bersama namun dengan persimpangan yang berbeda nantinya, pertigaan kantor pos, ia menuju ke kiri, sedangkan aku masih terus tanpa belok. Kami berpisah lagi. Waa, tidak terasa dan tanpa sadar, bahwa alkitab yang ia taruh di sepedaku, tetap aku bawa. Sampai rumah aku baru sadar, ternyata itu alkitabnya. Minggu kemudian lagi, aku kira kami bisa bertemu lagi di gereja, ternyata tak ada. Dirinya tidak ada di gereja, mungkin dia ke ibadah pagi, dan aku di ibadah sore. Aku mulai gelisah, mengapa aku tak bertemu kembali dengannya. Minggu berikutnya lagi, aku coba datang ke ibadah pagi, dan tak ku temui dirinya, apa mungkin dia dapatnya pada ibadah sore, akhirnya aku coba datang saat ibadah sore, ternyata diapun tidak nampak. Apa yang salah? 2 minggu sudah alkitabnya bersama-sama dengan alkitabku di dalam tas gereja ini, di dalam kamarku, setiap hari ketika aku saat teduh, alkitabku selalu ada di sebelah alkitabnya. Hingga berikutnya, minggu ketiga setelah aku tak bertemu dengannya, aku tetap ke gereja, saat ibadah pagi. Ibadah sorenya aku tidak datang, karena aku ada acara keluarga. Dan sekitar jam 8 malam, saat itu, biasanya, waktu-waktu setelah selesai ibadah sore. Hpku berbunyi, dan ada sms dari nomor tak dikenal dengan isi: "Malam, tolong cepat ke kantor pos, bawa alkitabnya juga." Segeralah, aku pergi ke kantor pos, karena yang ada di pikiranku, itulah sms darinya. Setibanya di kantor pos, ada seorang laki-laki yang menyapaku dan menanyakan alkitab Petra, aku berikan dan dia adalah teman dari Petra, sama-sama satu asrama di BIFA, aku bertanya pula di mana Petranya namun ia tak menjawab. Dia hanya berkata bahwa ia hanya mengambil alkitab Petra yang tertinggal dan Petra titip salam untukku. Aku juga bertanya, darimana ia dapat nomorku, ternyata juga dari Hamba Tuhan di gereja. Ya sudahlah, mungkin perkenalanku dengan Petra hanya sebatas ini saja, dan pikirku, bahwa Petra mungkin sudah memiliki orang lain yang lebih dari aku, sehingga aku tidak terlihat olehnya. Inilah perkenalan yang singkat antara aku dan dia, hanya sebatas itu saja, padahal bila boleh jujur, aku ingin lebih dari ini, aku ingin mengenalnya lebih dalam lagi. Tapi, hanya ini akhirnya, perkenalan singkat dengan pertemuan yang indah, di Rumah Tuhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar