Kamis, 06 Februari 2014

CONTOH ESSAI - AKU CINTA INDONESIA




                Di suatu sekolah di Jakarta, ada seorang anak lelaki, sebut saja Markus. Markus adalah anak pindahan dari Jayapura. Sudah satu tahun Markus pindah ke Jakarta, namun bahasa yang ia gunakan masih saja Bahasa Indonesia baku dengan logat Papua asli, tanpa terkontaminasi bahasa gaul ala Jakarta. Hal ini membuat Markus terasing dari pergaulan dengan teman-teman kelasnya. Saat ada kerja kelompok, Markus tidak mendapatkan kelompok. Dengan komunikasinya yang kaku, ditambah dengan kulit Markus yang hitam dan rambutnya yang keriting, itu menambah keanehan Markus dan membuat Markus semakin dikucilkan dan menjadi bahan ejekan teman-temannya.
                Sampai suatu kali, guru BK yang mengamati Markus, memanggilnya ke ruang BK. Di ruang tersebut, guru BK menjelaskan apa maksud beliau memanggil Markus, yakni untuk mengetahui tanggapan Markus terhadap teman-teman kelasnya, yang mengucilkan dan menjadikannya sebagai bahan ejekan. Di situ pula, guru BK menanyainya, apakah ia tidak ingin untuk dapat lebih bergaul dengan teman-temannya, dengan cara mulai berkomunikasi dengan bahasa sehari-hari, bahasa gaul ibukota.
                Namun, alangkah terpikaunya guru BK ketika mendengar jawaban dari Markus, yang mengatakan, “Maaf Ibu, ini keadaan diri beta yang sebenarnya. Beta dari Papua, cara omong beta juga khas Papua. Beta anak Indonesia, bahasa beta juga Bahasa Indonesia. Biarlah kawan-kawan beta mengucilkan beta, beta hanya mau jadi diri sendiri. Beta cinta Indonesia, biarlah beta menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Indonesia ini bhineka tunggal ika, Ibu, biar hitam dan keriting begini, beta tetap anak Indonesia“.
                Di jaman modern seperti ini, generasi muda seringkali membuat dan menggunakan bahasa-bahasa baru yang aneh, namun selalu menjadi tren, yang diikuti oleh generasi muda. Generasi muda yang tidak mengikuti atau tidak menggunakan bahasa-bahasa baru tersebut dianggap aneh, kurang pergaulan, kuno dan lain-lain. Bahasa-bahasa seperti “kepo”, “kudet”, “sita”, “elo”, “gue”, dan sebagiannya, tidak terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, namun menjadi tren bagi para remaja. Sedangkan kata-kata seperti “kudeta”, “ekstensi”, “degenerasi”, dan lain-lain, yang justru terdapat dalam KBBI,malah tidak dimengerti.
                Tidak hanya itu, generasi yang berbahasa Indonesia dengan benar, secara formal dan sesuai kaidah EYD, malah dikucilkan dan dianggap “sok pintar”. Padahal, negara kita adalah negara Indonesia, yang memiliki berbagai suku dan bahasa daerah, namun kita memiliki bahasa persatuan yaitu Bahasa Indonesia. Seharusnya, bahasa Indonesia menjadi bahasa utama kita,berbahasa dengan baik dan benar, bukan hanya berbicara dengan bahasa gaul yang katanya keren, namun tak karuan, yang malah menyimpang bahkan meninggalkan bahasa Indonesia yang sebenarnya.
                Jadi, sebagai generasi muda, marilah kita melestarikan bahasa Indonesia. Sebaiknya sebagai generasi muda jangan sampai malu menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar yang sesuai EYD. Karena bahasa Indonesia merupakan bahasa persatuan kita, dan bahasa ini merupakan identitas bangsa kita.  Jika kita terus menggunakan bahasa gaul, maka kita akan kehilangan identitas kita sebagai bangsa Indonesia.  Jangan sampai itu terjadi karena kita sendiri.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar