Minggu, 14 April 2013

3 DETIK



           Akhir-akhir  ini di kalangan remaja, khususnya kalangan kami, populer sekali dengan drama Korea yang berjudul “Love Rain”, yang menceritakan tentang jatuh cinta pada pandangan pertama hanya dalam waktu tiga detik saja, namun tidak bisa melupakan dan meninggalkan cinta pertama tersebut seumur hidupnya. Teman-temanku, khususnya para perempuan, sangat tergila-gila dan berharap jatuh cinta dalam 3 detik itu terjadi pada mereka dan tulang rusuknya kelak, suatu saat nanti, ketika sudah waktunya.
            Awal cerita “Love Rain” hampir sama dengan kisahku, kisah cinta pertama saat di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Saat itu, aku duduk di kelas X dan dia duduk di kelas XI. Teringat sekali, waktu itu jam pulang sekolah, tepatnya hari Selasa, di depan ruang kelas X4, dimana aku buru-buru dari kelas menuju ruang latihan Paduan Suara dan apa yang terjadi? Datanglah dia, tepat di depanku, aku ke kiri, dia ke kiri, aku ke kanan, dia ke kanan pula, begitu seterusnya hingga 3 kali... Hingga akhirnya aku terdiam dan menatap mukanya yang jauh lebih tinggi daripada mukaku, dia terhenti pula. Kemudian aku meninggalkannya dan melanjutkan jalanku menuju ruang Paduan Suara dengan wajah dan hatiku yang ceria dan berbunga-bunga.
            Sebelumnya, sekilas aku hanya tahu dia, siswa berprestasi di sekolahku dalam bidang non-akademiknya dan seorang yang di unggulkan tampangnya karena gantengnya. Aku sudah berniat, saat di bangku SMA, aku hanya harus memikirkan pelajaran saja. Tidak yang lainnya, termasuk urusan cowok pun, aku belum dan tidak mau memikirkannya. Tapi berbeda, setelah bertemunya saat itu, aku selalu memikirkannya. Belum lagi, setiap Jumat, aku selalu bertemu dan bersama dengannya dalam ekstrakulikuler Voli. Waaa, rasanya, pikiranku hanya dipenuhi dengan dia.
            Begitu seterusnya, seseorang yang mengisi hatiku hanya dia. Hingga kenaikan kelas tiba, aku duduk di kelas XI dan dia di kelas XII. Awal aku duduk di kelas XI, terdengar rumor bahwa dia putus dengan pacarnya, itu cukup membuatku senang, karena setidaknya masih ada harapan buatku. Setiap Jumat, kami masih sering bertemu, kecuali ketika ia pergi ke luar kota untuk mengikuti pertandingan-pertandingan baik tingkat provinsi maupun tingkat nasional. 2 semester sudah aku memendam, dan rasanya benih yang kupendam belum tumbuh sama sekali.
            Memasuki semester ketiga ku di SMA, kulihat jelas dengan mata kepalaku, bahwa setiap harinya dia berangkat dan pulang bersama teman perempuannya yang merupakan kakak sepupuku. Bukan hanya itu, mereka pernah bersama-sama meminjam laptopku untuk melihat hasil hunting foto mereka berdua yang sampai sekarang file-nya mereka titipkan di laptopku. Waaa, rasanya benih yang aku tanam ini memang tidak ada harapan untuk tumbuh dan mungkin benih tersebut sudah mati dan tidak akan menjadi bunga yang tumbuh dan mekar dengan eloknya.
            Di pertengahan semester tigaku ini, tepatnya hari Jumat, saat itu hari hujan dan kelas XII selesai melaksanakan Try Out pertamanya. Saat itu, aku berada di sekolah karena aku harus melakukan penelitian untuk KTI-ku dan tiba-tiba hujan deras mengguyur, angin kencangpun bertiup seirama dengan turunnya hujan. Dan apa yang terjadi? Aku lihat sendiri, mereka berdua terjebak hujan di kantin sekolah dan mereka makan bersama dengan girangnya. Hingga sore hari, sekitar pukul 3, dimana aku telah selesai melakukan penelitianku di Laboraturium Kimia dan hujan mulai reda. Aku bergegas pulang dengan berjalan kaki menuju kost ku, dan aku melihat mereka berdua, bergoncengan dengan sepeda motor dan seolah mau pulang.
            Dari situ sudah bisa aku lihat dan aku pastikan, bahwa benar, memang mereka berdua pasangan yang serasi dan dia memang cocok untuk kakak sepupuku. Hari itu, dengan ikhlas, aku putuskan bahwa benih yang aku tanam sudah benar-benar mati dan aku melepasnya, aku berhenti menyukainya dan berharap padanya. Sudah tiga semester aku memendamnya dan tidak bertumbuh. Lagian, sebentar lagi dia akan melaksanakan ujian nasional dan akan meninggalkan sekolah ini. Hal itu membuatku semakin mudah untuk melepasnya, memang awalnya sulit, namun aku bisa melepasnya saat ini.
            3 detik, aku menatapnya di depan Ruang Kelas X-4. 3 semester aku memendam rasa tanpa ada seorangpun yang mengetahuinya. Dan setelah 3 semester menantinya, aku melepasnya. Aku buang rasa suka ini karena aku sadar, memang bukan untukku. Ending ceritaku ini berbeda dengan ending cerita “Love Rain” dan aku sadar, “Love Rain” hanya film yang fiktif dan rekayasa, yang di sutradarai oleh seseorang, namun kisahku, nyata, tanpa ada rekayasa maupun tanpa ada sutradara. 3 detik jatuh cinta padanya, 3 semester kemudian aku berhasil melepasnya. (By: AiLing) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar