kumpulan tulisan tentang isi hati dan apresiasi diri berbentuk cerita pendek/cerpen, puisi, artikel, dll. @levinailing www.facebook.com/MeyRienz
Minggu, 17 Januari 2016
Kamis, 07 Januari 2016
PERSEPSI DAN BUDAYA
Pengertian Persepsi
Persepsi adalah cara pandang seseorang mengenai suatu hal. Dalam sumber lain, menyatakan bahwa persepsi adalah proses internal dalam diri seseorang yang dilakukan untuk memilih, mengorganisir, dan mengevaluasi rangsangan dari luar.
Contoh Persepsi
Dalam suatu lingkungan sosial, terdapat keberadaan prostitusi di Doly, Surabaya. Kebanyakan orang berpersepsi bahwa prostitusi bukanlah hal yang baik, sehingga kebanyakan setuju ketika Walikota Risma membubarkan tempat prsotitusi tersebut. Namun, ada sebagian orang yang tidak setuju, karena dengan dibongkarnya tempat prostitusi malah terjadi banyak pengangguran, angka penyebaran HIV/AIDS pun tidak bisa dikontrol, karena prostitusi yang semula berfokus pada suatu tempat berubah menjadi menyebar, di sembarang tempat yang tidak diketahui.
Pengertian Budaya
Budaya adalah gagasan, ide, norma, yang dimiliki oleh manusia dan diturunkan dari generasi ke generasi, untuk memenuhi dan mengatur kehidupan manusia.
Persepsi Manusia dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya:
a. Sistem kepercayaan, nilai, dan sikap
Kepercayaan adalah hal yang diyakini oleh individu mengenai karakterisktik suatu hal.
Nilai adalah ukuran atau takaran mengenai baik-buruknya dan benar-salahnya suatu perilaku
Sikap adalah cara respon seseorang terhadap suatu hal. Sikap dipengaruhi dan terbentuk oleh kepercayaan dan nilai.
Misalkan: Seorang muslim memandang (berpresepsi) bahwa babi adalah haram, tidak layak untuk dimakan. Presepsi tersebut terbangun dari kepercayaannya dari ajaran agama, bahwa babi adalah haram. Nilainya adalah makan babi adalah berdosa, salah, bukan suatu perbuatan yang benar. Sikapnya adalah ia tidak mau memakan babi.
b. Pandangan dunia
Pandangan dunia juga membentuk presepsi. Pandangan dunia bisa meliputi fashion, cara dan mdel berpakaian, gaya hidup, cara berbicara, penggunaan kata-kata, dan lain-lain. Pandangan dunia ini dapat membantu seseorang untuk mengetahui dimana posisinya berada di dunia ini.
Misalkan: Seseorang berpersepsi dirinya adalah anak gaul jika ia mengikuti trend mode yang ada, seperti model baju terbaru, makan di resto yang terkenal, update status di berbagai media sosial, dll.
c. Organisasi / Kelompok Sosial
Organisasi sosial juga membentuk presepsi suatu individu. Contoh organisasi sosial adalah keluarga dan sekolah. Keluarga dan sekolah mempunyai nilai-nilai dan budaya sendiri yang dipertahankan dan diajarkan kepada anggotanya.
Misalkan: seorang anak kecil dapat berpersepsi bahwa mencuri itu adalah perbuatan tercela, karena sekolah dan keluarga mendidik ia untuk berbuat terpuji, bukan berbuat tercela seperti mencuri
HUBUNGAN KEKERABATAN MANUSIA - ANTROPOLOGI
Hubungan kekerabatan biasa disebut juga hubungan kekeluargaan.
Sebuah hubungan kekerabatan/kekeluargaan terbentuk melalui pernikahan / perkawinan.
Jenis Keluarga:
- Keluarga inti / king group = adalah keluarga inti saja, terdiri dari orang tua dan anak
- Keluarga besar / luas / extended family = adalah keluarga yang lebih luas, terdiri dari keluarga orang tua, keluarga saudara, yang hidup dalam satu lingkungan
Jenis Keluarga berdasarkan garis keturunan / Model kekerabatan:
- Patrilineal = keturunan bapak yang diperhatikan
- Matrilineal = keturunan ibu yang diperhatikan
- Bilineal = keturunan ibu dan bapak, bdk kesepakatan brsama sesuai beban dan tanggungjawab masing2
- Bilateral = keturunan ibu dan bapak diperhatikan
Jenis Keluarga berdasarkan pola menetap:
- Neolokal = keluarga inti tinggal di tempat yang baru dan sendiri
- Patrilokal = keluarga inti tinggal di tempat di daerah keluarga suami
- Matrokal = keluarga inti tinggal di tempat di daerah keluarga istri
Pola menetap kekerabatan :
- Utrolokal = keluarga inti bebas memilih sendiri, entah sendiri atau bersama kedua pihak keluarga dari pria dan wanita. Misalkan : Airin menikah dan tinggal bersama suami, keluarga suami, dan keluarga Airin sendiri
- Virilokal = keluarga inti tinggal dan menetap bersama keluarga dari pihak laki-laki. Misalkan : Airin menikah dan tinggal bersama dengan keluarga suami
- Uxorilokal = keluarga inti tinggal dan menetap bersama keluarga dari pihak perempuan. Misalkan: Airin menikah. Suami Airin tinggal bersama Airin dan keluarga Airin.
Unsur yang terdapat dalam suatu kelompok:
- Ada pemimpin yang mengatur
- Ada sistem norma yang mengatur tingkah laku dan diakui oleh seluruh anggota kelompok
- Ada aktivitas berkumpul secara bersama
- Ada identitas / lambang / kepribadian tertentu yang dimiliki oleh seluruh anggota kelompok
- Ada sistem yang mengatur tentang hak dan kewajiban mengenai interaksi dan sistem keuangan / harta dalam suatu kelompok
Sebuah hubungan kekerabatan/kekeluargaan terbentuk melalui pernikahan / perkawinan.
Jenis Keluarga:
- Keluarga inti / king group = adalah keluarga inti saja, terdiri dari orang tua dan anak
- Keluarga besar / luas / extended family = adalah keluarga yang lebih luas, terdiri dari keluarga orang tua, keluarga saudara, yang hidup dalam satu lingkungan
Jenis Keluarga berdasarkan garis keturunan / Model kekerabatan:
- Patrilineal = keturunan bapak yang diperhatikan
- Matrilineal = keturunan ibu yang diperhatikan
- Bilineal = keturunan ibu dan bapak, bdk kesepakatan brsama sesuai beban dan tanggungjawab masing2
- Bilateral = keturunan ibu dan bapak diperhatikan
Jenis Keluarga berdasarkan pola menetap:
- Neolokal = keluarga inti tinggal di tempat yang baru dan sendiri
- Patrilokal = keluarga inti tinggal di tempat di daerah keluarga suami
- Matrokal = keluarga inti tinggal di tempat di daerah keluarga istri
Pola menetap kekerabatan :
- Utrolokal = keluarga inti bebas memilih sendiri, entah sendiri atau bersama kedua pihak keluarga dari pria dan wanita. Misalkan : Airin menikah dan tinggal bersama suami, keluarga suami, dan keluarga Airin sendiri
- Virilokal = keluarga inti tinggal dan menetap bersama keluarga dari pihak laki-laki. Misalkan : Airin menikah dan tinggal bersama dengan keluarga suami
- Uxorilokal = keluarga inti tinggal dan menetap bersama keluarga dari pihak perempuan. Misalkan: Airin menikah. Suami Airin tinggal bersama Airin dan keluarga Airin.
Unsur yang terdapat dalam suatu kelompok:
- Ada pemimpin yang mengatur
- Ada sistem norma yang mengatur tingkah laku dan diakui oleh seluruh anggota kelompok
- Ada aktivitas berkumpul secara bersama
- Ada identitas / lambang / kepribadian tertentu yang dimiliki oleh seluruh anggota kelompok
- Ada sistem yang mengatur tentang hak dan kewajiban mengenai interaksi dan sistem keuangan / harta dalam suatu kelompok
Kamis, 31 Desember 2015
Analisis Aspek Sosial Serta Model Konseling Pada Lansia
1.
Pengertian
Lansia
Pengertian lanjut usia
(lansia) ialah manusia yang berumur di atas usia 60 tahun dan masih hidup.
Kelompok lanjut usia adalah kelompok penduduk yang berusia 60 tahun ke atas
(Hardywinoto dan Setiabudhi,1999;8).
Penggolongan lansia menurut
Depkes dikutip dari Azis (1994) menjadi
tiga kelompok yakni :
-
Kelompok lansia dini (55 – 64 tahun), merupakan kelompok yang baru memasuki
lansia
- Kelompok lansia (65
tahun ke atas)
- Kelompok lansia
resiko tinggi, yaitu lansia yang berusia lebih dari 70
tahun.
Usia tua atau sering
disebut senescence merupakan suatu periode dari rentang kehidupan yang ditandai
dengan perubahan atau penurunan fungsi tubuh, biasanya mulai pada usia yang
berbeda untuk individu yang berbeda (Papalia, 2001). Memasuki usia lanjut
biasanya dudahului oleh penyakit kronis, kemungkinan untuk ditinggalkan
pasangan, pemeberhentian aktivitas atau kerja dan tantangan untuk mengalihkan
energi dan kemampuan ke peran baru dalam keluarga, pekerjaan dan hubungan intim
(Wolman, 1982).
1.
Lansia
Dipandang Melalui Aspek Sosial, Biologi dan Ekonomi
Secara sosial, penduduk
lanjut usia merupakan satu kelompok sosial sendiri. Di negara Barat, penduduk
lanjut usia menduduki strata sosial di bawah kaum muda. Hal ini dilihat dari
keterlibatan mereka terhadap sumber daya ekonomi, pengaruh terhadap pengambilan
keputuan serta luasnya hubungan sosial yang semakin menurun. Akan tetapi di
Indonesia penduduk lanjut usia menduduki kelas sosial yang tinggi yang harus
dihormati oleh warga muda (Suara Pembaharuan 14 Maret 1997).
Secara biologis
penduduk lanjut usia adalah penduduk yang mengalami proses penuaan secara terus
menerus, yang ditandai dengan menurunnya daya tahan fisik yaitu semakin
rentannya terhadap serangan penyakit yang dapat menyebabkan kematian. Hal ini disebabkan terjadinya perubahan dalam struktur
dan fungsi sel, jaringan, serta sistem organ.
Secara ekonomi, penduduk lanjut usia lebih dipandang sebagai beban dari
pada sebagai sumber daya. Banyak orang beranggapan bahwa kehidupan masa tua
tidak lagi memberikan banyak manfaat, bahkan ada yang sampai beranggapan bahwa
kehidupan masa tua, seringkali dipersepsikan secara negatif sebagai beban
keluarga dan masyarakat.
2.
Kebutuhan
Lansia
Lansia memiliki banyak
kebutuhan dalam hidupnya agar dapat hidup dengan mandiri. Kebutuhan ini sejalan
dengan pendapat Maslow dalam Koswara (1991) yang menyatakan bahwa kebutuhan
manusia meliputi :
(1) Kebutuhan fisik (physiological
needs) adalah kebutuhan fisik atau biologis seperti pangan, sandang,
papan, dan fasilitas fasilitas kesehatan.
(2) Kebutuhan sosial (social needs) adalah
kebutuhan untuk bermasyarakat atau berkomunikasi dengan manusia lain melalui
paguyuban, organisasi profesi, kesenian, olah raga, kesamaan hobby dan sebagainya.
3.
Aspek
Hubungan Sosial pada Lansia
Menurut Lilian Troll,
menemukan bahwa lansia yang berhubungan dekat dengan keluarganya mempunyai
kecenderungan lebih sedikit untuk stress dibanding lansia yang hubunganny jauh.
Terdapat tiga aspek hubungan sosial tersebut antara lain :
a. Friendship
Laura Carstensen menyimpulkan bahwa orang cenderung mencari teman dekat
dibandingkan dengan teman baru ketika mereka semakin tua. Penelitian ini
membuktikan bahwa lansia perempuan yang tidak memiliki teman baik kurang puas
akan hidupnya dibanding yang mempunyai teman baik.
Seseorang yang berusia lanjut akan mengalami perubahan-perubahan akibat
penurunan fungsi sistem tubuh. Salah satu perubahan tersebut adalah perubahan
kejiwaan dan fisik. Masalah kesehatan jiwa lansia yang sering muncul adalah
gangguan proses pikir yang ditandai dengan lupa, pikun, bingung, dan curiga,
dan gangguan perasaan ditandai dengan perasaan kelelahan, acuh tak acuh,
tersinggung, sedangkan gangguan fisik/somatik meliputi gangguan pola tidur,
gangguan makan dan minum, gangguan perilaku yang ditandai dengan enggan
berhubungan dengan orang lain, dan ketidakmampuan merawat diri
sendiri(Wijayanti,2008).
Pada umumnya pada masa lanjut usia ini orang mengalami penurunan fungsi
kognitif dan psikomotorik. Menurut Zainudin (2002) fungsi kognitif meliputi
proses belajar, persepsi pemahaman, pengertian, perhatian dan lain-lain yang
menyebabkan reaksi dan perilaku lanjut usia menjadi semakin lambat. Fungsi
psikomotorik meliputi hal-hal yang berhubungan dengan dorongan kehendak seperti
gerakan, tindakan, koordinasi yang berakibat bahwa lanjut usia kurang cekatan.
Pada akhirnya ditemukan korelasi antara kemunduran fisik yang dialamai
seorang lansia akan berpengaruh terhadap hubungan pertemanannya. Menurunnya
koordinasi tubuh, gangguan fungsi kognitif dan psikomotorik akhirnya akan
membentuk perilaku menutup diri dan enggan berhubungan dengan orang lain
terutama orang baru.
b. Social Support
Menurut penelitian,
dukungan sosial dapat membantu individu untuk mengatasi masalahnya secara
efektif. Dukungan sosial juga dapat meningkatkan kesehatan fisik dan mental
pada lansia. Dukungan sosial berhubungan dengan pengurangan gejala penyakit dan
kemampuan untuk memenuhi kebutuhannya sendiri akan perawatan kesehatan. Toni
Antonucci, menyimpulkan bahwa interaksi sosial dengan orang yang menyediakan
dukungan sosial memberikan pandangan yang lebih positif mengenai dirinya kepada
orang-orang tua tersebut.
Dukungan sosial juga
memengaruhi kesehatan mental dari para orang tua tersebut. para orang tua yang
mengalami depresi memiliki jaringan sosial yang kecil, mengalami masalah dalam
berinteraksi dengan anggota dalam jaringan sosial yang mereka miliki, dan
sering mengalami pengalaman kehilangan dalam hidup mereka. Pernyataan ini
didukung oleh penelitian dari Mishra, Bagga, Nalini, Chadha & Kanwar (dalam
Mishra,2004), yang menemukan bahwa lansia yang tinggal di suatu institusi
menderita kesepian dan merasa tidak puas karena terpisah dari keluarga dan
komunitas yang lebih luas. Mereka juga menemukan bahwa lansia yang tinggal
dalam suatu institusi merasa lebih kesepian daripada yang tidak tinggal dalam
suatu institusi yang diakibatkan juga karena kurangnya dukungan sosial yang
mereka terima.
Dukungan sosial sendiri
mengacu pada kenyamanan, perhatian, penghargaan, atau bantuan yang diberikan
orang lain, atau kelompok kepada individu (Sarafino,2006). Untuk memperoleh
dukungan sosial tersebut para lansia perlu berinteraksi dengan orang lain
seperti kontak sosial. Dukungan sosial mungkin saja datang dari berbagai pihak,
tetapi dukungan sosial yang amat bermakna dalam kaitannya dengan masalah
kesepian adalah dukungan sosial yang
bersumber dari mereka yang memiliki kedekatan emosional, seperti anggota
keluarga dan kerabat dekat (Gunarsa,2004). Biasanya dukungan sosial ini tidak
didapatkan dari kelurga terdekat misalkan dari anak-anaknya dikarenakan
kesibukan dari anak-anaknya, maka sebagian lansia akan membentuk komunitas atau
perkumpulan sebagai manifestasi dukungan sosial yang mereka butuhkan.
c. Integrasi Sosial
Integrasi sosial
memainkan peranan yang sangat penting pada kehidupan lansia. Kondisi kesepian
dan terisolasi secara sosial akan menjadi faktor yang beresiko bagi kesehatan
lansia. Sebuah studi menemukan bahwa dengan menjadi bagian dari jaringan
sosial, hal ini akan berdampak pada lamanya masa hidup terutama pada laki-laki.
Integrasi sosial merupakan evaluasi
terhadap kualitas hubungan seseorang dengan masyarakat dan dengan komunitasnya.
Integrasi merupakan suatu tingkatan ketika seseorang merasa bahwa dirinya
memiliki kesamaan dengan orang lain pada kenyataannya, dan ia memang merupakan
milik komunitas dan masyarakatnya. Diindikasikan oleh perasaan menjadi bagian
dari lingkungan sekitar, serta berpikir bahwa ia memiliki, merasa didukung dan
berbagi kebersamaan dengan lingkungan sekitar (Indriana,2011).
Pada waktu seseorang
memasuki masa usia lanjut atau 60 tahun ke atas, akan mengalami berbagai
perubahan sosial. Meskipun kehidupan sosial menurun, tetapi akan mengalami
pergantian. Aktivitas yang menurun berhubungan dengan menurunnya kemampuan
fisik, dapat diganti aktivitas baru yang tidak tergantung pada energi fisik.
Hilangnya peran-peran sosial dapat diganti dengan peran-peran yang baru.
Demikian juga partisipasi sosial yang menurun dapat diganti dengan meningkatnya
partisipasi dalam bidang yang berbeda, seperti peningkatan partisipasi sosial
dalam bidang keagamaan.
4. Faktor-faktor
yang Harus Diperhatikan Lansia
a.
Lingkungan Sosial
Sosialisasi terhadap lingkungan
sekitarnya untuk menghindari terjadinya depresi, stress, paranoia, dan gangguan
lain dengan cara :
1. Melakukan komunikasi dengan keluarga, teman maupun
tetangga sekitar
2. Melakukan aktivitas yang sesuai minat dan kemampuannya
untuk mengisi waktu luang
3. Berkumpul bersama teman-teman semasa sekolah/ kerja dan
membuat teman baru untuk menggantikan mereka yang telah meninggal atau yang telah
pindah
Adapun bagi keluarga yang mempunyai
anggota keluarga yang lanjut usia adalah:
1.
Memberikan kenyamanan dengan suasana
keluarga yang bahagia dan harmonis
2. Memberikan semangat dalam diri lansia untuk tetap
produkiv dalam hidupnya
3.
Memberikan semangat dalam hal spiritual
untuk mengurangi perasaan takut atau khawatir dalam diri lansia
5.
Rancangan
Konseling Bagi Lansia
Berdasarkan pada
penurunan kemampuan cognitive dan fisik serta keadaan sosial dari lansia maka
rancangan konseling bagi lansia haruslah sesuai dengan keadaan tersebut agar
konseling dapat mencapai tujuan. Beberapa cara yang dapat dilakukan adalah :
-
Konseling dimulai dengan pemberian
dukungan sosial berupa motivasi, perhatian dan kasih sayang sehingga lansia
merasa lebih diperhatikan dan dihargai
-
Konseling dapat dilakukan dengan cara
ikut serta dalam kegiatan yang digemari oleh lansia seperti dilakukan dalam
komunitas atau perkumpulan yang diikuti lansia
-
Saran
yang diberikan hendaknya sesuai dengan fungsi cognitive dari lansia. Saran yang
diberikan haruslah singkat dan diberikan satu per satu.
-
Konseling dapat melibatkan orang-orang
terdekat dari lansia tersebut seperti keluarga atau pengasuh
DAFTAR
PUSTAKA
Adriani,Merryana
& Wirjatmadi,Bambang. 2012. Peranan Gizi
dalam Siklus Kehidupan. Jakarta : Kencana Prenadamedia Group
Indriana,dkk.
2011. Religiositas, Keberadaan Pasangan
dan Kesejahteraan Sosial (Social Well Being) pada Lansia Binaan PMI Cabang
Semarang. Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro. Jurnal Psikologi Undip
Vol.10.no:2
Marini,Liza
& Hayati,Sari. 2012. Pengaruh
Dukungan Sosial terhadap Kesepian pada Lansia di Perkumpulan Lansia Habibi dan
Habibah. Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara. Jurnal
Wijayanti.
2008. Hubungan Kondisi Fisik RTT Lansia
terhadap Kondisi Sosial Lansia. Jurnal Ilmiah Perancangan Kota dan
Permukiman. Vol.7.no: 1
Selasa, 29 Desember 2015
Kuliah FOOD IDEOLOGY SYSTEM - Antropologi Gizi
Food ideology à sikap, kepercayaan, kebiasaan yang dapat mempengaruhi pola makan dan gizi
Kadang, masyarakat membuat ideology sendiri
terkait sebab-akibat antara makan dan kesehatan.
FOOD BELIEF Ã kepercayaan tentang
kesehatan dalam artian yang lebih
luas ; meliputi
makan dan dampak
Misalkan : Orang
menolak injeksi insulin, karena diabet yang dialami dianggap sbg dosa yang
terakumulasi sejak muda (di Mexico)
FOOD and FOLK MEDICINE Ã pangan terkait pengobatan
tradisional
-
Hot and cold dichotomy / yin yang (china)
Dasar
pengobatan tradisional
Makanan
digolongkan dalam kelompok panas (yang), netral, dan dingin (yin)
dan harus dikonsumsi secara seimbang. Daging
masuk kelompok panas, sayuran termasuk kelompok dingin
-
Hot, cold, cool trichotomy – Mexico
Penyakit dalam kategori panas, harus diberi makanan dalam kategori dingin
Konsep hot-cold dalam kesehatan
reproduksi (Sanjur, 1982) : (belum tentu benar secara ilmiah)
-
Wanita dianggap hangat
pada saat menstruasi, sehingga
disarankan menghindari makanan dingin
spy tdk mengalami kram
-
Pada Ibu menyusui,
makanan hangat dan panas dianggap memperlancar pemberian ASI, dan
sebaliknya
Contoh food
belief yang berhubungan dengan folk medicine:
-
Di Indonesia, makanan-makanan yang dapat
memperlancarkan ASI (lactogague) : daun katuk, daun semeloh (di Madura),
torbangun (di Batak)
Di era modern, food belief yang ada industry dan marketing membangun
image dan presepsi tertentu
Misal
: eat/drink Milo to run faster
PENGKLASIFIKASIAN MAKANAN TERKAIT BUDAYA
-
Cultural super food : melekat kuat,
susah untuk diganti
Biasanya berupa makanan pokok , sumber
kalori
Misal : Beras di Asia tenggara ; Jagung di
Mexico dan Amerika Tengah ; Gandum di Eropa ; yams di Afrika barat
-
Prestige food : makanan dianggap punya status, biasanya disajikan
dalam acara penting atau untuk menjamu orang
penting. Status dikaitkan dengan biaya,
cara memperoleh, seringkali sumber protein, sulit didapat atau diolah, liar,
impor, dll
Misal
: sirip hiu, lobster, truffle, dll
-
Sympathetic magic food : property magis makanan
dapat berpindah
kpd orang yg mengonsumsinya
Misal
di India : kenari, berbentuk spt otak, org yang mengonsumsinya dipercaya dapat
cerdas
-
Physiological groups food
: makanan dianggap dapat menguntungkan
dan merugikan bg orang dapat kondisi
fisiologi tertentu
Missal
: Ikan tidak baik untuk anak-anak krn dinggap penyebab kecacingan ; di Puerto
Rico, anak dalam kondisi sakit tidak diberikan telur dan susu.
FOOD TABOO
Taboo = dilarang, forbidden
Dibedakan
menjadi :
1.
Permanen Food Taboo à terkait dengan religi
Misal:
orang Muslim dan Yahudi tidak boleh makan darah dan babi
Orang
Hindu tidak makan daging sapi, karena sapi dianggap suci
2.
Temporary Food Taboo à dilarang makan makanan tertentu saat kondisi
fisiologi tertentu
Misal
: ketika hamil dilarang makan nanas ; makan kangkung mnyebabkan rematik ; tidak
boleh makan pisang dempet karena dianggap menyebabkan anak kembar siam ; makan
kemangi menyebabkan ari-ari lengket.
Padahal à kangkung kaya zat
besi, ari2 lengket disebabkan Karena riwayat bumil yang punya banyak anak,
kembar siam terjadi karena pembelahan sel telur yang tidak sempurna, dll
FOOD FAD Ã Istilah popular
Terkait pada pola makan/diet tertentu untuk tujuan perubahan / manfaat jangka pendek
Biasanya terjadi
pd individu yang:
-
Percaya pertolongan instan bagi kesehatannya
-
Mis-trust
-
Model
-
Stres people
Penyebab Food
Fad:
-
Faktor
internal --> dari motivasi orang tsb
-
Faktor Eksternal --> dari social, budaya,
iklan, dll
Contoh food fad:
·
Konsumsi suplemen berlebihan
·
Diet penurunan BB secara instan
·
Diet vegetarian tanpa dasar yg jelas
·
Konsumsi natural food
·
Konsumsi pangan organik
·
Dll
Konsekuensi dari
food fad :
-
Konsekuensi
Ekonomi: perlu biaya yang lebih mahal
-
Konsekuensi
kesehatan : vegetarian rentan mengalami anemia, dll
PENENTUAN STATUS MINERAL SECARA BIOKIMIA
Penentuan status gizi meliputi berbagai jenis, diantaranya adalah secara biokimia. Penentuan status gizi juga dilakukan untuk menilai kecukupan ataukan terjadi defisiensi dari suatu zat gizi, baik makronutrien, maupun mikronutrien. Berikut adalah penentuan status gizi beberapa mineral secara biokimia, khususnya dengan melihat kadar serum:
1. Kalsium
Kadar normal kalsium dalam serum pada orang dewasa adalah 9 to 11 mg/100 ml.
Kalsium sebagian besar tersimpan dalam tulang.
Kalsium berfungsi sebagai salah satu penyusun tulang. Selain itu, kalsium juga berperan dalam pembekuan darah dan dalam kontraksi otot.
2. Fosfor
Dalam tubuh, fosfor memiliki beberapa bentuk, diantaranya adalah sebagai fosfat inorganik.
Kadar serum normal fosfat inorganik adalah:
Pada dewasa : 2.5 to 4.5 mg %
Pada anak: 4 to 6 mg %
Dalam tubuh, fosfor berinteraksi dengan kalsium, dimana penyimpanannya banyak dalam bentuk kalsium hidroksiapatit. Fosfor juga merupakan komponen pembentuk tulang dan gigi. Selain itu, fosfor banyak terlibat sebagai kofaktor dalam reaksi metabolisme energi.
3. Magnesium
Konsentrasi Mg dalam serum orang dewasa sekitar 0,85 mmol/L dengan range 0,7-1,0 mmol/L
Dalam tubuh, magnesium berbentuk sebagai kation magnesium, yang memiliki muatan +2.
Magnesium berfungsi dalam relaksasi otot, dimana fungsi ini berbalikan dengan fungsi kalsium, yakni dalam kontraksi otot.
Kekurangan magnesium dalam tubuh dapat menyebabkan terjadinya kejang otot, dimana otot akan terus berkontraksi dan tidak dapat berelaksasi.
4. Natrium
Kadar normal natrium dalam darah: 130 to 145 mEq/L
Kadar normal natrium di intracellular dalam bentuk Na+ : 10 mEq/L
Rata-rata kadar natrium normal dalam serum pada orang dewasa adalah 142 mEq/L
Natrium berkaitan dengan tekanan darah, dimana kadar natrium akan berbanding lurus dengan tekanan darah. Yang artinya, kebanyakan natrium dapat memperbesar risiko terjadinya hipertensi atau tekanan darah tinggi.
5. Kalium
Rata-rata konsentrasi kalium dalam cairan intraseluler adalah 150 mEq/L .
Rata-rata konsentrasi kalium dalam cairan ekstraseluler adalah sekitar 3.5 to 5.0 mEq/L.
Kadar normal kalium dalam serum adalah 3 to 5.0 mEq/L
Fungsi kalium berbalikan dengan natrium. Jika natrium berperan dalam menaikkan tekanan darah, kalium sebaliknya, kalium berperan dalam menurunkan tekanan darah.
6. Klor
Konsentrasi klor dalam serum adalah 105 mEq/L.
Fungsi klor adalah mempertahankan tekanan osmotik dalam tubuh. Fungsi ini dijalankan oleh klor besama dengan kalium dan natrium.
7. Iodin
Dalam tubuh orang dewasa, iodin yang ada sekitar 50 mg
Sedangkan kadar iodin dalam plasma adalah 4-8 μg per 100 ml dari protein pembawa iodin.
Fungsi iodin dalam tubuh berkaitan erat dengan fungsi kelenjar tiroid.
8. Zink
Kadar normal : 10-15 μmol/L dalam serum
Metabolisme Zink dalam tubuh berkaitan erat dengan metabolisme protein.
Fungsi Zink sendiri adalah sebagai kofaktor dalam berbagai reaksi metabolisme tubuh. Kekurangan Zink akan menyebabkan dwarfisme atau tubuh pendek dan terhambatnya pertumbuhan. Ini juga berkaitan erat dengan kekurang protein.
9. Selenium
Rata-rata untuk orang dewasa normal : 0.5-2.5 μmol/L
Selenium sendiri berfungsi sebagai antioksidan dalam tubuh, yaitu dalam bentuk enzim glutahionin selenium peroksidase. Sebagai antioksidan, selenium menangkap radikal bebas yang berkeliaran dalam tubuh. Jika dibiarkan, radikal bebas ini akan merusak sel-sel tubuh dan akibatnya tubuh akan mengalami gangguan kesehatan.
Masih banyak mineral lain yang terdapat dalam tubuh, namun beberapa mineral yang saya ulas diatas, kiranya cukup membantu dan menambah wawasan anda sekalian. Sekian dan trimakasih. Gbu
Sumber : Essensial Biochemistry of Medical Student ; Nutrition Assessment (Gibson)
1. Kalsium
Kadar normal kalsium dalam serum pada orang dewasa adalah 9 to 11 mg/100 ml.
Kalsium sebagian besar tersimpan dalam tulang.
Kalsium berfungsi sebagai salah satu penyusun tulang. Selain itu, kalsium juga berperan dalam pembekuan darah dan dalam kontraksi otot.
2. Fosfor
Dalam tubuh, fosfor memiliki beberapa bentuk, diantaranya adalah sebagai fosfat inorganik.
Kadar serum normal fosfat inorganik adalah:
Pada dewasa : 2.5 to 4.5 mg %
Pada anak: 4 to 6 mg %
Dalam tubuh, fosfor berinteraksi dengan kalsium, dimana penyimpanannya banyak dalam bentuk kalsium hidroksiapatit. Fosfor juga merupakan komponen pembentuk tulang dan gigi. Selain itu, fosfor banyak terlibat sebagai kofaktor dalam reaksi metabolisme energi.
3. Magnesium
Konsentrasi Mg dalam serum orang dewasa sekitar 0,85 mmol/L dengan range 0,7-1,0 mmol/L
Dalam tubuh, magnesium berbentuk sebagai kation magnesium, yang memiliki muatan +2.
Magnesium berfungsi dalam relaksasi otot, dimana fungsi ini berbalikan dengan fungsi kalsium, yakni dalam kontraksi otot.
Kekurangan magnesium dalam tubuh dapat menyebabkan terjadinya kejang otot, dimana otot akan terus berkontraksi dan tidak dapat berelaksasi.
4. Natrium
Kadar normal natrium dalam darah: 130 to 145 mEq/L
Kadar normal natrium di intracellular dalam bentuk Na+ : 10 mEq/L
Rata-rata kadar natrium normal dalam serum pada orang dewasa adalah 142 mEq/L
Natrium berkaitan dengan tekanan darah, dimana kadar natrium akan berbanding lurus dengan tekanan darah. Yang artinya, kebanyakan natrium dapat memperbesar risiko terjadinya hipertensi atau tekanan darah tinggi.
5. Kalium
Rata-rata konsentrasi kalium dalam cairan intraseluler adalah 150 mEq/L .
Rata-rata konsentrasi kalium dalam cairan ekstraseluler adalah sekitar 3.5 to 5.0 mEq/L.
Kadar normal kalium dalam serum adalah 3 to 5.0 mEq/L
Fungsi kalium berbalikan dengan natrium. Jika natrium berperan dalam menaikkan tekanan darah, kalium sebaliknya, kalium berperan dalam menurunkan tekanan darah.
6. Klor
Konsentrasi klor dalam serum adalah 105 mEq/L.
Fungsi klor adalah mempertahankan tekanan osmotik dalam tubuh. Fungsi ini dijalankan oleh klor besama dengan kalium dan natrium.
7. Iodin
Dalam tubuh orang dewasa, iodin yang ada sekitar 50 mg
Sedangkan kadar iodin dalam plasma adalah 4-8 μg per 100 ml dari protein pembawa iodin.
Fungsi iodin dalam tubuh berkaitan erat dengan fungsi kelenjar tiroid.
8. Zink
Kadar normal : 10-15 μmol/L dalam serum
Metabolisme Zink dalam tubuh berkaitan erat dengan metabolisme protein.
Fungsi Zink sendiri adalah sebagai kofaktor dalam berbagai reaksi metabolisme tubuh. Kekurangan Zink akan menyebabkan dwarfisme atau tubuh pendek dan terhambatnya pertumbuhan. Ini juga berkaitan erat dengan kekurang protein.
9. Selenium
Rata-rata untuk orang dewasa normal : 0.5-2.5 μmol/L
Selenium sendiri berfungsi sebagai antioksidan dalam tubuh, yaitu dalam bentuk enzim glutahionin selenium peroksidase. Sebagai antioksidan, selenium menangkap radikal bebas yang berkeliaran dalam tubuh. Jika dibiarkan, radikal bebas ini akan merusak sel-sel tubuh dan akibatnya tubuh akan mengalami gangguan kesehatan.
Masih banyak mineral lain yang terdapat dalam tubuh, namun beberapa mineral yang saya ulas diatas, kiranya cukup membantu dan menambah wawasan anda sekalian. Sekian dan trimakasih. Gbu
Sumber : Essensial Biochemistry of Medical Student ; Nutrition Assessment (Gibson)
Rabu, 09 Desember 2015
WAWANCARA DALAM RISET KOMUNIKASI
Riset diartikan sebagai
penelitian secara umum. Kata riset berasal dari Bahasa Latin, yaitu “re”, yang berarti lagi, dan ’‘cercier“, yang berarti mencari. Secara
harafiah, riset dapat dikatakan sebagai pencarian ulang terhadap sesuatu. Riset
komunikasi berarti mencari atau menemukan sesuatu yang baru dalam ranah
komunikasi. Dalam suatu riset, baik kualitatif maupun kuantitatif, diperlukan
suatu metode yang digunakan guna mendapatkan data. Salah satu metode yang
sering digunakan oleh para peneliti adalah metode wawancara.
Wawancara adalah suatu metode
pengumpulan data guna memperoleh informasi yang didapatkan langsung dari sumbernya.
Dalam Bahasa Inggris, wawancara disebut sebagai ‘‘interview“, yang berarti
percakapan antara dua orang atau lebih. Wawancara juga dapat dikatakan sebagai
perbincangan atau percakapan antara pewawancara dengan narasumber atau
responden guna menggali informasi mengenai suatu topik tertentu. Dalam
wawancara, peneliti terjun ke lapangan atau masyarakat, mengumpulkan data
dengan berbicara atau bercakap-cakap dengan masyarakat secara langsung.
Wawancara bertujuan utama untuk menggali informasi serta mendapatkan data
dari responden. Fungsi wawancara dalam riset komunikasi digolongkan menjadi 3,
yaitu sebagai metode primer, metode sekunder, dan kriterium. Wawancara sebagai
metode primer berarti wawancara dilakukan sebagai cara utama untuk mengumpulkan
data. Hal ini berarti memang metode wawancaralah yang dipilih sebagai metode
dalam menggali informasi sebagai data riset atau penelitian, walaupun ada
banyak metode lainnya yang sebenarnya dapat digunakan. Kemudian, sebagai metode
sekunder, wawancara dilakukan ketika tidak ada metode atau cara lain yang dapat
digunakan untuk memperoleh data. Hal ini berarti wawancara dilakukan karena
terpaksa, sebagai cara atau langkah satu-satunya dalam mengumpulkan data. Sedangkan,
wawancara sebagai kriterium berarti wawancara dilakukan dan digunakan sebagai
cara untuk mengoreksi kebenaran suatu kumpulan data yang telah diperoleh dari
metode lain. Dalam fungsinya sebagai kriterium, wawancara digunakan sebagai
metode akhir, yakni dalam verifikasi data, apakah data yang didapat dengan cara
metode lain tersebut sudah relevan ataukah tidak.
Berdasarkan
jumlah responden, wawancara dikelompokkan menjadi wawancara kelompok dan pribadi.
Wawancara pribadi berarti pewawancara hanya menggali informasi dari satu orang
narasumber saja. Sedangkan wawancara kelompok, berarti pewawancara menggali
informasi dari dua atau lebih narasumber secara bersamaan. Dasar dari pemilihan
jenis wawancara ini didasarkan kepada tujuan awal dari penelitian atau riset,
dalam hal ini adalah riset komunikasi. Kebanyakan peneliti menggunakan
wawancara pribadi untuk memperoleh data guna risetnya, namun wawancara pribadi
tersebut dilakukan kepada banyak responden.
Dalam
riset komunikasi yang menggunakan metode wawancara, secara umum ada tiga tahap
dalam teknik wawancara. Tiga tahap tersebut adalah tahap persiapan,
pelaksanaan, dan paska wawancara. Setiap peneliti yang menggunakan metode wawancara
guna mendapatkan data harus memahami, memperhatikan, dan melakukan ketiga
tahapan dalam teknik wawancara ini guna keefektifan dan keefisienan. Ketiga
tahap ini runtut, tidak dapat dibolak-balik atau dilewatkan satupun. Dengan
tidak melakukan ketiga tahap ini secara lengkap, maka proses wawancara tidak
akan berjalan secara lancar, efektif, dan efisien. Misalkan saja, seseorang
pewawancara atau peneliti mengabaikan tahap persiapan, maka tahap pelaksanaan
wawancara pun akan terganggu. Bisa jadi, pelaksaan wawancara akan kacau, karena
pewawancara akan blank karena tidak
mempersiapkan apapun, khususnya pertanyaan.
Pada tahap persiapan wawancara,
peneliti sebagai pewawancara, menentukan topik atau tema wawancara. Dimana dalam riset
komunikasi, topik atau tema wawancara ini ditentukan dari topik penelitian dan
data apa yang ingin didapatkan dalam wawancara untuk menunjang pelaksanaan
penelitian yang dilakukan. Setelah menentukan topik wawancara, peneliti
diharapkan memahami masalah yang akan ditanyakannya dalam wawancara sekaligus
peneliti mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada narasumber.
Kemudian, peneliti menentukan siapa yang akan menjadi narasumbernya. Narasumber
adalah orang-orang yang berkaitan dan mengerti dengan baik mengenai permasalahan
atau topik yang diangkat. Setelah menentukan narasumber, peneliti menghubungi
narasumber dan membuat janji dengan narasumber, atau jika narasumber tidak
ditentukan secara spesifik, misalkan narasumber adalah warga di suatu desa,
peneliti dapat langsung mendatangi desa tersebut dan melakukan wawancara kepada
warga. Namun, sekali lagi, pewawancara perlu mempersiapkan topik dan pertanyaan
yang akan diajukan.
Dalam tahap penyusunan
pertanyaan dalam wawancara ini, pertanyaan dapat digolongkan menjadi pertanyaan
terbuka maupun pertanyaan tertutup. Pertanyaan terbuka memiliki jawaban dengan
pola penjelasan, jadi narasumber menjawab pertanyaan tersebut dengan
menjelaskannya. Pertanyaan tertutup memiliki jawaban yang lebih sempit,
misalkan “ya” atau “tidak, “sudah” atau “belum”, dan sebagainya. Masing-masing
dari jenis pertanyaan tersebut memiliki kekurangan dan kelebihan. Pertanyaan
terbuka dapat membuat narasumber bercerita dan menjelaskan tentang topik yang
dimaksud dengan sedemikian rupa. Namun, kekurangannya adalah pewawancara atau
peneliti tidak bisa mengontrol narasumber, bisa saja narasumber bertele-tele
dan menyimpang dari topik wawancara. Sedangkan pertanyaan tertutup memiliki
kelebihan yakni jawaban dari narasumber singkat, padat, namun terbatas. Dengan
mengajukan pertanyaan tertutup, sejujurnya pewawancara dapat menghemat waktu,
langsung kepada sasaran jawaban yang diinginkan oleh pewawancara atau peneliti,
dan pewawancara dapat mengontrol jalannya situasi. Namun, tidak akan terbangun
kedekatan antara pewawancara dan narasumber, selain itu biasanya pertanyaan
tertutup akan membuat responden jenuh dan jawaban yang diberikan kurang detail.
Pemilihan penggunaan jenis pertanyaan terbuka atau tertutup kembali lagi kepada
peneliti atau pewawancara, kembali disesuaikan dengan tujuan dan maksud dari
wawancara, data apa yang akan diharapkan dari wawancara, yang sekiranya
membantu pelaksanaan penelitian.
Setelah tahap persiapan,
berikutnya adalah tahap pelaksanaan. Tahap pelaksanan ini adalah tahapan dimana
peneliti bertemu dengan narasumber. Ketika bertemu dengan narasumber dan
melakukan wawancara, peneliti disarankan untuk memakai pakaian yang sopan dan
rapi, menggunakan bahasa yang komunikatif, yaitu jelas dan dapat dimengerti
oleh narasumber. Hal awal yang dilakukan oleh peneliti untuk membuka sesi
wawancara adalah perkenalan diri dan penyampaian maksud atau tujuan dari
wawancara tersebut. Peneliti juga
dapat menanyakan dan mencatat identitas dari narasumber jika diperlukan. Peneliti
juga diharapkan dapat menciptakan keakraban dengan narasumber, sehingga
narasumber dapat merasa nyaman. Kemudian, peneliti selaku pewawancara
dapat menanyakan pertanyaan-pertanyaan kepada narasumber. Peneliti juga
disarankan untuk merekam proses wawancara menggunakan alat perekam atau
mencatat hal-hal pokok sebagai hasil wawancara yang didapat dari jawaban
narasumber.
Kemudian, tahap yang terakhir
adalah tahap paska wawancara. Dalam tahap ini, peneliti yang telah melakukan
wawancara dan mendapatkan jawaban dari wawancara tersebut, menganalisis hasil
wawancara. Guna dari catatan atau rekaman yang digunakan saat wawancara adalah
untuk membantu dan memudahkan pewawancara atau peneliti dalam merangkum hasil
wawancara dan membuatnya menjadi data dalam riset komunikasi. Kemudian, data
tersebut diinterpretasikan dalam tahapan riset komunikasi ini.
Dalam tahapan wawancara, ada
beberapa sikap yang perlu diperhatikan oleh pewawancara, diantaranya adalah
memfokuskan diri pada lawan bicara. Dengan ini, lawan bicara, yaitu narasumber,
dapat merasa nyaman dan dihargai oleh pewawancara. Selain itu, pewawancara
fokus kepada topik pembicaraan guna menjalankan wawancara secara efektif dan
efisien. Pewawancara juga harus sabar terhadap narasumber jika narasumber
keluar dari topik pembicaraan, sebaliknya, pewawancara harus mengembalikan
pembicaraan kepada topik yang sudah ditentukan. Jika ada hal-hal kurang jelas, pewawancara dapat melakukan verifikasi
kembali. Hal ini dilakukan supaya data yang didapatkan benar-benar
valid. Volume dan intonasi suara dari pewawancara harus diperhatikan pula. Hal
ini dimaksudkan supaya narasumber nyaman dalam proses wawancara. Volume yang
kurang keras atau terlalu keras, serta intonasi yang tidak jelas dapat
mengganggu dan menurunkan efetifitas dalam proses wawancara. Setelah melakukan
proses wawancara, pewawancara juga harus mengucapkan terimakasih kepada
narasumber. Alangkah lebih baik juga jika pewawancara memberikan kompensasi
atau hadiah kepada narasumber atas informasi yang telah mereka berikan,
kesediaan, dan waktu yang mereka luangkan.
Dalam proses wawancara terkadang
juga dijumpai kesalahan interpretasi. Kesalahan tersebut dapat disebabkan oleh
perbedaan presepsi dari narasumber dan pewawancara. Ketika narasumber
memberikan jawabannya, bisa saja pewawancara tidak menangkap secara total dan
jeli apa yang menjadi maksud dari narasumber. Hal ini biasanya terjadi ketika
pewawancara menanyakan pertanyaan terbuka dan narasumber menjawabnya lebih dari
satu ide pokok. Kesalahan lain dapat disebabkan karena pengajuan pertanyaan
tambahan oleh pewawancara atau peneliti dalam suatu riset karena
“mempertanyakan” maksud dari jawaban narasumber sebelumnya sehingga pembicaraan
menjadi tidak terkontrol dan meluap ke topik lain. Selain itu, kesalahan juga
dapat disebabkan karena responden yang tidak kompeten. Responden yang tidak
kompeten maksudnya adalah responden yang asal jawab, menjawab dengan tidak
benar dan tidak sesuai dengan pertanyaan yang diajukan. Jika pewawancara atau
peneliti menemui responden yang demikian, alangkah lebih baik jika pewawancara
mengakhiri proses wawancara. Kesalahan-kesalahan dalam proses wawancara
sebaiknya diminimalisir dan dihindari, sebab kesalahan-kesalahan pasti akan
berdampak dan mengganggu proses berjalannya riset komunikasi.
Wawancara adalah salah satu
metode yang dapat dilakukan guna pengumpulkan data dalam suatu riset. Ada
banyak hal yang perlu diperhatikan dalam proses wawancara. Pewawancara yang
baik hendaknya memperhatikan etika wawancara, sehingga proses wawancara dan
pengumpulan informasi dapat berjalan sesuai dengan keinginan yang diharapkan
dan tujuan dari riset komunikasipun dapat tercapai.
DAFTAR PUSTAKA
Kriyantono,
Rachmat. 2009. Teknik Praktis Riset
Komunikasi. Malang: Kencana Prenada Media Group.
Hadi, Ido Priyono. 2001. Wawancara. http://faculty.petra.ac.id/ido/courses/11_wawancara.pdf. Di akses tanggal 7 Desember 2015
Indrawati., Damayanti, Lira Fesia. 2010. Psikodiagnostik III : Interview. http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PSIKOLOGI/195010101980022.SITI_WURYAN_INDRAWATI/PD3_wawancara.pdf. Diakses tanggal 7 Desember 2015.
Farouk.2004. Praktik
Ilmu Komunikasi. Teraju
Kamis, 13 Agustus 2015
New Academic Years
I'm so busy, so I can't update this blog
I'm so grateful that I can pass my first years at university
Praise to the Lord, I got good grade hehe
In this new academic year, i hope bisa mempertahankan nilai, being active in organizations, getting scholarship, and still teaching. Baik scara privat maupun di rumah singgah.. :)
May God Bless us..
I'm so grateful that I can pass my first years at university
Praise to the Lord, I got good grade hehe
In this new academic year, i hope bisa mempertahankan nilai, being active in organizations, getting scholarship, and still teaching. Baik scara privat maupun di rumah singgah.. :)
May God Bless us..
Sabtu, 18 Juli 2015
Langganan:
Postingan (Atom)



















