Ketika matahari tlah hilang
Yang ada di langit hanya gelap
Di saat cintamu telah sirna
Tinggallah ku bersama sepi
Di saat api cintamu padam
Yang tersisa hanya abu cinta
Yaitu kenangan indah kita
Tak ada kamu, yang ada sepi
^Di setiap malam kalbu aku merintih
^Merindukan dirimu yang telah pergi
^Di setiap hari-hariku aku kesepian
^Teringat kamu dan semua kenangan
Haruskah aku menjauh tinggalkan dunia
Agar ku dapat kembali seperti dulu tanpamu
Atau aku cari penggantimu yang sirnakan sepi
Namun tak ada yang seperti dirimu oh kasih...
^Di tiap hariku menangisi dirimu
^Yang pergi tinggalkan kesepian ini
^Tolonglah daku, tepiskan rasa sepi ini
^Yang selalu mengganggu di setiap hari
kumpulan tulisan tentang isi hati dan apresiasi diri berbentuk cerita pendek/cerpen, puisi, artikel, dll. @levinailing www.facebook.com/MeyRienz
Rabu, 18 April 2012
Selasa, 17 April 2012
I JUST HAPPY IN MY WAY!
Don't wanna lie to me about us
Don't wanna make me cry again
Don't hurt my heart cause love
Don't make me sad cause your self
Because i want happy in my life
With you, and with all of our love
But if it can't happen it's okay
I can happy in my way without you
*Let's go, and run, get all of my dream
*I don't want you disturb my self again
*Because you make my life so bad and sad
*And let it go on, I just happy in my way
Truely, i just love, you the one in my heart
But if you just justice me, let you go leave me
^I can walk in this world alone, without you
^I just happy in my way, not in your way
^Don't back, please leave so far and go away
^I don't want your way, i just happy in my way
Don't wanna make me cry again
Don't hurt my heart cause love
Don't make me sad cause your self
Because i want happy in my life
With you, and with all of our love
But if it can't happen it's okay
I can happy in my way without you
*Let's go, and run, get all of my dream
*I don't want you disturb my self again
*Because you make my life so bad and sad
*And let it go on, I just happy in my way
Truely, i just love, you the one in my heart
But if you just justice me, let you go leave me
^I can walk in this world alone, without you
^I just happy in my way, not in your way
^Don't back, please leave so far and go away
^I don't want your way, i just happy in my way
Jumat, 06 April 2012
SYUKUR ATASNYA
Dari awal penciptaan semua suci
Dan lalu terbawa dosa yang hampiri
Manusiapun berdosa tak lagi kudus
Sampai keturunannya, kita berdosa
Kita semua didalam kuasa dosa
Kita semua adalah hamba dosa
Sampai tiba waktunya tergenapi
Dia datang ke dunia untuk kita
Dia lahir dari kaum sederhana
Merendahkan diri-Nya di dunia
Semua orang tiada yang mengenal-Nya
Orang membenci-Nya dan salibkan Dia
Dia siksa, dihukum, dan menderita
Bahkan rela serahkan nyawa-Nya
Untuk kita, tiap orang yang percaya
Dosa kita telah dihapuskan darah-Nya
Puji Tuhan, kita patut bersyukur
Dia tebus dosa semua yang percaya
Dia tanggung hukuman dosa kita
Dialah Juruselamat orang percaya
Dia menciptakan, Dia tanggung dosa kita
Dia melindungi, Dia menyertai selamanya
Kini tiba saatnya kita yang harus setia
Seperti Dia yang terlebih dulu setia
Kasih-Nya selalu ada untuk kita
Layaklah kita harus seperti Dia
Karena kita anak-anak-Nya yang percaya
Yang dipilih untuk warisi Istana Sorga
Jadilah terang dunia, garam yang pengaruhi
Nyatakan kemuliaan-Nya dalam hidup kita
Ucapan syukur kita atas pengorbanan-Nya
Atas semua yang Dia rancang bagi hidup kita
^Happy Easter^
Dan lalu terbawa dosa yang hampiri
Manusiapun berdosa tak lagi kudus
Sampai keturunannya, kita berdosa
Kita semua didalam kuasa dosa
Kita semua adalah hamba dosa
Sampai tiba waktunya tergenapi
Dia datang ke dunia untuk kita
Dia lahir dari kaum sederhana
Merendahkan diri-Nya di dunia
Semua orang tiada yang mengenal-Nya
Orang membenci-Nya dan salibkan Dia
Dia siksa, dihukum, dan menderita
Bahkan rela serahkan nyawa-Nya
Untuk kita, tiap orang yang percaya
Dosa kita telah dihapuskan darah-Nya
Puji Tuhan, kita patut bersyukur
Dia tebus dosa semua yang percaya
Dia tanggung hukuman dosa kita
Dialah Juruselamat orang percaya
Dia menciptakan, Dia tanggung dosa kita
Dia melindungi, Dia menyertai selamanya
Kini tiba saatnya kita yang harus setia
Seperti Dia yang terlebih dulu setia
Kasih-Nya selalu ada untuk kita
Layaklah kita harus seperti Dia
Karena kita anak-anak-Nya yang percaya
Yang dipilih untuk warisi Istana Sorga
Jadilah terang dunia, garam yang pengaruhi
Nyatakan kemuliaan-Nya dalam hidup kita
Ucapan syukur kita atas pengorbanan-Nya
Atas semua yang Dia rancang bagi hidup kita
^Happy Easter^
Kamis, 05 April 2012
GALAU
Dentangan jam dinding tunjukan tengah malam
Mata ini tak tertutup, diri tak terlelap
Pikiran tak tenang karena seseorang disana
Dia yang selalu memerhatikan diriku ini
Mungkinkan ini hanya perasaanku sementara
Ataukah memang benar inilah faktanya
Dia yang memperdulikan daku yang rapuh
Ataukah pikiranku yang terlalu jauh
*Galau, rasa hati bimbang tak menentu
*Galau, terlelappun aku takkan bisa
*Galau, lupakan bayangannya tak mampu
*Dan galau, karena munculnya dirinya
Sesaat mencoba pikirkan yang lainnya
Berlari menjauh dari angan tentangnya
Sejauh dan sekeras mungkin tlah kucoba
Sulit rasanya, dan kuakui aku tak bisa
Dia selalu di pikiran dan hatiku
Membuat aku jadi tidak menentu
Aku bingung, aku bimbang, aku galau
Galau, tak tau apa yang harus kulakukan
(Selain mengingat semua tentangmu)
Mata ini tak tertutup, diri tak terlelap
Pikiran tak tenang karena seseorang disana
Dia yang selalu memerhatikan diriku ini
Mungkinkan ini hanya perasaanku sementara
Ataukah memang benar inilah faktanya
Dia yang memperdulikan daku yang rapuh
Ataukah pikiranku yang terlalu jauh
*Galau, rasa hati bimbang tak menentu
*Galau, terlelappun aku takkan bisa
*Galau, lupakan bayangannya tak mampu
*Dan galau, karena munculnya dirinya
Sesaat mencoba pikirkan yang lainnya
Berlari menjauh dari angan tentangnya
Sejauh dan sekeras mungkin tlah kucoba
Sulit rasanya, dan kuakui aku tak bisa
Dia selalu di pikiran dan hatiku
Membuat aku jadi tidak menentu
Aku bingung, aku bimbang, aku galau
Galau, tak tau apa yang harus kulakukan
(Selain mengingat semua tentangmu)
ASIK-ASIK
Asik-asik-asik...
Seru-seru-seru...
Dua wajah, empat mata berhadapan
Awal dari cinta yang tersimpan
Saat itu dia bilang sayang (sayang)
Saat itu hatiku berdetak kencang
Cinta memang membawa kebahagiaan
Saat bersamanya ada keasyikan
Jujur, seru, saat bercanda ria
Dan inilah manisnya cinta kita
*Asik..asik..asik..
*Saat kita berdua
*Seru..seru..seru..
*Kita saling mencinta
*Setia seumur hidup sepanjang umur
*Kau ada untukku, ku ada untukmu
*Asik..asik.. Saat indah bersamamu
*Asik..asik..asik..asik..asik..
Seru-seru-seru...
Dua wajah, empat mata berhadapan
Awal dari cinta yang tersimpan
Saat itu dia bilang sayang (sayang)
Saat itu hatiku berdetak kencang
Cinta memang membawa kebahagiaan
Saat bersamanya ada keasyikan
Jujur, seru, saat bercanda ria
Dan inilah manisnya cinta kita
*Asik..asik..asik..
*Saat kita berdua
*Seru..seru..seru..
*Kita saling mencinta
*Setia seumur hidup sepanjang umur
*Kau ada untukku, ku ada untukmu
*Asik..asik.. Saat indah bersamamu
*Asik..asik..asik..asik..asik..
Selasa, 20 Maret 2012
APA ADANYA
Sempurna.. sempurna.. nampaknya..
Tercela.. tercela.. akhirnya..
Kau mulai dengan baik di awal
Tapi diakhir kau jadi terburuk
Jangan.. jangan.. dan jangan..
Jadi seperti itu, nilainya jauh
Ternyata berbeda, tak sama
Jadi lakukan apa adanya
Semampumu, ku yakin kau akan bisa
Jangan pernah memaksa atau menipu
Orang lain yang lihat termasuk aku
Terimalah keadaanmu apa adanya
Syukuri keadaanmu, yang semua baik
Nikmati kelebihanmu, yang kau miliki
Jangan pernah merasa iri pada orang lain
Kekurangan untuk motivasi, jangan ditutupi
Akui saja, terima saja, syukuri saja semuanya
Tuhan itu adil, Dia punya rencana bagi dirimu
Percaya diri, katakan, inilah diriku
Yang spesial, unik, walau tak sempurna
Tercela.. tercela.. akhirnya..
Kau mulai dengan baik di awal
Tapi diakhir kau jadi terburuk
Jangan.. jangan.. dan jangan..
Jadi seperti itu, nilainya jauh
Ternyata berbeda, tak sama
Jadi lakukan apa adanya
Semampumu, ku yakin kau akan bisa
Jangan pernah memaksa atau menipu
Orang lain yang lihat termasuk aku
Terimalah keadaanmu apa adanya
Syukuri keadaanmu, yang semua baik
Nikmati kelebihanmu, yang kau miliki
Jangan pernah merasa iri pada orang lain
Kekurangan untuk motivasi, jangan ditutupi
Akui saja, terima saja, syukuri saja semuanya
Tuhan itu adil, Dia punya rencana bagi dirimu
Percaya diri, katakan, inilah diriku
Yang spesial, unik, walau tak sempurna
AKULAH AKU
Terpejamkan dua mata ini
Saat melihat kecerahan mentari
Tak sanggup tahan cahayanya
Yang silau dan pejamkan mata
Begitupun lewati hari-hari
Kadang hati diriku bersedih
Walau mata menetes di pipi
Itulah yang kuatkan jiwa ini
R:
Satu hal yang ada di bumi
Yang mungkin jadi misteri
Satu hal tentang hidupku
Yang kuatkan aku ini
Yang tiada orang lain tau
Bahwa aku katakan, yakini
Akulah aku, tak ada yang sama
Akulah aku, walau tak sempurna
Aku manusia biasa di dunia yang fana
Aku memang tiada sempurna, berbeda
Punya kelebihan dan kekurangan
Akulah aku, yang tiada kau tahu
Jauh didalam diri dan jiwa ini
Aku bukan seperti yang kau tahu
Akulah aku, yang tersembunyi
Apa adanya, tanpa kau ketahui
Na..na..na..na..na..na..na...
Na..na..na..na..na..na..na...
Saat melihat kecerahan mentari
Tak sanggup tahan cahayanya
Yang silau dan pejamkan mata
Begitupun lewati hari-hari
Kadang hati diriku bersedih
Walau mata menetes di pipi
Itulah yang kuatkan jiwa ini
R:
Satu hal yang ada di bumi
Yang mungkin jadi misteri
Satu hal tentang hidupku
Yang kuatkan aku ini
Yang tiada orang lain tau
Bahwa aku katakan, yakini
Akulah aku, tak ada yang sama
Akulah aku, walau tak sempurna
Aku manusia biasa di dunia yang fana
Aku memang tiada sempurna, berbeda
Punya kelebihan dan kekurangan
Akulah aku, yang tiada kau tahu
Jauh didalam diri dan jiwa ini
Aku bukan seperti yang kau tahu
Akulah aku, yang tersembunyi
Apa adanya, tanpa kau ketahui
Na..na..na..na..na..na..na...
Na..na..na..na..na..na..na...
Jumat, 16 Maret 2012
FREE
Everytime you have better than me
Everything you always more than me
But I never cry and never shy
Because I have special one
Please don't be envy to me
That's make me don't free
I never talk about you
I never be envy to you
+So, why you always envy to me
+Why you always make me to down
+Please, please, please
+Don't do that...
*That's make me don't free
*But i like to free, free, free
*Away from you, and I can free
*I hope I can happy without you
Never.. never.. never thinking of you
I just be my shelf, and going leave you
Both your opinion or other opinion
If that make me down, I don't care it
Everything you always more than me
But I never cry and never shy
Because I have special one
Please don't be envy to me
That's make me don't free
I never talk about you
I never be envy to you
+So, why you always envy to me
+Why you always make me to down
+Please, please, please
+Don't do that...
*That's make me don't free
*But i like to free, free, free
*Away from you, and I can free
*I hope I can happy without you
Never.. never.. never thinking of you
I just be my shelf, and going leave you
Both your opinion or other opinion
If that make me down, I don't care it
Rabu, 14 Maret 2012
BARU KUSADARI
Setelah sekian lama kita tak bertemu
Akhirnya Tuhan pun pertemukan kita
Kita jauh dan aku terpaku dengan lainnya
Karena tak ada kepastian darimu
Otakku selalu berpikir cepat tentangmu
Semua yang ada hanya duka dan amarah
Melihat status palsu dan bukan fakta
Tapi tetap pikiran negativ untukmu
*Dan baru kini aku sadari, setelah kita bertemu kembali
*Walau hanya sesaat saja, tapi tetap masih ada bukti
*Baru aku sadari, ternyata kamu yang terbaik untukku
*Berharap waktu menjawab kita bisa kembali seperti dulu
Maaf aku hanya manusia tak sempurna
Hanya lihat dengan mata kepala
Tapi sungguh baru kini kusadari
Ternyata kau yang selalu menanti
+Baru kusadari, cintamu abadi
+Bukan sepertiku yang sakitimu
Akhirnya Tuhan pun pertemukan kita
Kita jauh dan aku terpaku dengan lainnya
Karena tak ada kepastian darimu
Otakku selalu berpikir cepat tentangmu
Semua yang ada hanya duka dan amarah
Melihat status palsu dan bukan fakta
Tapi tetap pikiran negativ untukmu
*Dan baru kini aku sadari, setelah kita bertemu kembali
*Walau hanya sesaat saja, tapi tetap masih ada bukti
*Baru aku sadari, ternyata kamu yang terbaik untukku
*Berharap waktu menjawab kita bisa kembali seperti dulu
Maaf aku hanya manusia tak sempurna
Hanya lihat dengan mata kepala
Tapi sungguh baru kini kusadari
Ternyata kau yang selalu menanti
+Baru kusadari, cintamu abadi
+Bukan sepertiku yang sakitimu
Rabu, 07 Maret 2012
BUKAN KESALAHAN
Setitik embun di awan basahi rumput di pagi hari
Menyejukkan suasana dan menambah keindahan pagi
Apabila nanti siang atau sore turunlah hujan lebat
Maka, itu takdir dan bukan kesalahanku dan lainnya
Ketika mimpi yang selalu ingin di raih perlahan pergi
Usaha tetap selalu ada, tapi tetap tak kan dapat diraih
Ya sudah jangan buat itu halangan, untuk melangkah lebih
Itu bukan kesalahan, hanya saja takdir yang telah memberi
Apabila memang jatuh, jadikan motivasi
Bukan salahmuu, bukan kesalahan yang perlu disesali
Apabila memang pergi, meninggalkan mimpi ini
Bukan salahmu, tak perlu kau sesali, jadikan motivasi
Begitu juga halnya dengan cinta di dunia
Yang manis di awalnya, tapi tak selamanya
Perasaan hati yang disakiti sedih tapi tak selamanya
Karena suatu hari nanti akan muncul bahagia
Jangan menyerah akan semua yang terjadi
jangan pernah sesali takdir yang sudah Tuhan beri
Jangan putus asa, cita-cita pasti kan kau raih
semua yang terjadi bukan salahmu dan salahku
Menyejukkan suasana dan menambah keindahan pagi
Apabila nanti siang atau sore turunlah hujan lebat
Maka, itu takdir dan bukan kesalahanku dan lainnya
Ketika mimpi yang selalu ingin di raih perlahan pergi
Usaha tetap selalu ada, tapi tetap tak kan dapat diraih
Ya sudah jangan buat itu halangan, untuk melangkah lebih
Itu bukan kesalahan, hanya saja takdir yang telah memberi
Apabila memang jatuh, jadikan motivasi
Bukan salahmuu, bukan kesalahan yang perlu disesali
Apabila memang pergi, meninggalkan mimpi ini
Bukan salahmu, tak perlu kau sesali, jadikan motivasi
Begitu juga halnya dengan cinta di dunia
Yang manis di awalnya, tapi tak selamanya
Perasaan hati yang disakiti sedih tapi tak selamanya
Karena suatu hari nanti akan muncul bahagia
Jangan menyerah akan semua yang terjadi
jangan pernah sesali takdir yang sudah Tuhan beri
Jangan putus asa, cita-cita pasti kan kau raih
semua yang terjadi bukan salahmu dan salahku
MAWAR YANG TERSIRAT
Sebatang pohon bunga mawar tumbuh di pekarangan
Sudah lama ditanam, tapi hanya hijau daun yang ada
Tak ada mawar yang tumbuh dengan indah dan berwarna
Hanya daun-daun dan duri yang ada bersama batangnya
Setiap kali pemilik berharap akan muncul mawar itu
Mawar yang berwarna merah, yang indah, lambang cinta
Tapi kapan? Sampai kini pun, mawar itu belum muncul
Mawar itu tidak memiliki bunga, hanya ada daun dan duri
Sampai ketika, sebuah bunga kecil berwarna merah muncul
Ia mulai bertambah besar, perlahan-lahan tapi pasti
Sang pemilik tak menyadari kemunculan mawar kecil tersebut
Karena terlalu banyak daun hijau yang menutupi mawar kecil itu
Pemilik menilai bahwa semua yang ada dalam pohon mawar itu sama
Semua hanya daun dan duri yang tidak berguna, yang merugikan saja
Karena tak ada satupun bunga indah yang muncul dari pohon tersebut
Malang.. Malang... Pohon itu sebentar lagi akan ditebang, akan mati
Kasihan duhai sang mawar kecil, yang tak bersalah tapi terancam jua
Perlahan, mawar itu beranjak dewasa dan bisa keluar dari dedaunan
Sang mawar menunjukkan, bahwa pada akhirnya dia pun bisa melihat dunia
Tak tertutup oleh dedaunan yang hijau lagi, yang menutupinya selama ini
Pemilik melihat mawar itu, dan memetiknya, menaruhnya dalam vas yang indah
Pemilik menebang semua daun, duri, dan batang yang sudah tanpa bunga
Daun, duri, yang merugikan itu lenyap, hilang, bagai angin berhembus
Mawar ada dalam kedamaian bersama pemiliknya, walaupun hanya di vas
Seiring berjalannya waktu, mawar pun mulai menumbuhkan daun barunya
Daun kali ini berbeda dengan yang sebelumnya, karena daun ini teman
Bukan daun yang menutupi mawar, tapi yang melengkapi mawar itu
Duri tumbuh, untuk melindungi sang mawar, bukan melawan pemilik
Sampai lengkaplah semua keluarga mawar, yang tak seperti dulu
Yang baik dan saling melengkapi diri sang mawar
Dengan seiring waktu, dan disadarilah, mawar itu tak tersirat
Tak seperti yang dulu, tak terkekang, dan kini bahagia
(semoga seiring waktupun dapat begitu)
Sudah lama ditanam, tapi hanya hijau daun yang ada
Tak ada mawar yang tumbuh dengan indah dan berwarna
Hanya daun-daun dan duri yang ada bersama batangnya
Setiap kali pemilik berharap akan muncul mawar itu
Mawar yang berwarna merah, yang indah, lambang cinta
Tapi kapan? Sampai kini pun, mawar itu belum muncul
Mawar itu tidak memiliki bunga, hanya ada daun dan duri
Sampai ketika, sebuah bunga kecil berwarna merah muncul
Ia mulai bertambah besar, perlahan-lahan tapi pasti
Sang pemilik tak menyadari kemunculan mawar kecil tersebut
Karena terlalu banyak daun hijau yang menutupi mawar kecil itu
Pemilik menilai bahwa semua yang ada dalam pohon mawar itu sama
Semua hanya daun dan duri yang tidak berguna, yang merugikan saja
Karena tak ada satupun bunga indah yang muncul dari pohon tersebut
Malang.. Malang... Pohon itu sebentar lagi akan ditebang, akan mati
Kasihan duhai sang mawar kecil, yang tak bersalah tapi terancam jua
Perlahan, mawar itu beranjak dewasa dan bisa keluar dari dedaunan
Sang mawar menunjukkan, bahwa pada akhirnya dia pun bisa melihat dunia
Tak tertutup oleh dedaunan yang hijau lagi, yang menutupinya selama ini
Pemilik melihat mawar itu, dan memetiknya, menaruhnya dalam vas yang indah
Pemilik menebang semua daun, duri, dan batang yang sudah tanpa bunga
Daun, duri, yang merugikan itu lenyap, hilang, bagai angin berhembus
Mawar ada dalam kedamaian bersama pemiliknya, walaupun hanya di vas
Seiring berjalannya waktu, mawar pun mulai menumbuhkan daun barunya
Daun kali ini berbeda dengan yang sebelumnya, karena daun ini teman
Bukan daun yang menutupi mawar, tapi yang melengkapi mawar itu
Duri tumbuh, untuk melindungi sang mawar, bukan melawan pemilik
Sampai lengkaplah semua keluarga mawar, yang tak seperti dulu
Yang baik dan saling melengkapi diri sang mawar
Dengan seiring waktu, dan disadarilah, mawar itu tak tersirat
Tak seperti yang dulu, tak terkekang, dan kini bahagia
(semoga seiring waktupun dapat begitu)
Sabtu, 03 Maret 2012
1234567890
1 kali menatap wajahmu, indah
2 senang rasanya bila lihatmu
3 tumbuh rasa yang berbeda
4 perlahan mencuri hatimu
5 kamu sedikit merespon aku
6 kita saling bersama-sama
7 kita saling bercerita ria
8 aku mulai merasa kamupun suka
9 aku sungguh merasa bahagia
*Herannya, kisah berakhir begitu saja
*0, 0, 0, kamu bukan milikkku
*Ternyata, kamu sudah punya lainnya
*Ya sudah, ku buang rasa ini jauh-jauh
*Kosong, kosong, semuanya sia-sia
*Bagaikan kau berikan mawar merah
*Yang indah tapi kau tusukkan durinya
*Sakit, akhirnya sakit semua
*Terluka,dan akan kubuang mawar itu!!!
2 senang rasanya bila lihatmu
3 tumbuh rasa yang berbeda
4 perlahan mencuri hatimu
5 kamu sedikit merespon aku
6 kita saling bersama-sama
7 kita saling bercerita ria
8 aku mulai merasa kamupun suka
9 aku sungguh merasa bahagia
*Herannya, kisah berakhir begitu saja
*0, 0, 0, kamu bukan milikkku
*Ternyata, kamu sudah punya lainnya
*Ya sudah, ku buang rasa ini jauh-jauh
*Kosong, kosong, semuanya sia-sia
*Bagaikan kau berikan mawar merah
*Yang indah tapi kau tusukkan durinya
*Sakit, akhirnya sakit semua
*Terluka,dan akan kubuang mawar itu!!!
BERUNTUNG
Saat kutahu kau lebih memilihnya
Beruntungnya ku tak sampai cinta
Beruntungnya ku hanya sekedar suka
Dan itu hanya tersimpan di hati saja
Saat kulihat kau bersama dirinya
Beruntungnya hanya setitik rasa saja
Tak ada rasa iri, dendam, maupun tak suka
Semua ku terima dengan lapang dada
*Aku cukup beruntung dan bersyukur
*Karena ini hanya setitik rasa terpendam
*Aku cukup berterimakasih pada Tuhan
*Karena semua tak buat ku putus asa dan sakit
Bila nanti akhirnya kau memang tak kembali
Tak apa, jalanilah dengan dia saja
Ku akui ku dulu memang pernah suka
Tapi biar kau dengannya, karena kau cinta dia
Beruntungnya ku tak sampai cinta
Beruntungnya ku hanya sekedar suka
Dan itu hanya tersimpan di hati saja
Saat kulihat kau bersama dirinya
Beruntungnya hanya setitik rasa saja
Tak ada rasa iri, dendam, maupun tak suka
Semua ku terima dengan lapang dada
*Aku cukup beruntung dan bersyukur
*Karena ini hanya setitik rasa terpendam
*Aku cukup berterimakasih pada Tuhan
*Karena semua tak buat ku putus asa dan sakit
Bila nanti akhirnya kau memang tak kembali
Tak apa, jalanilah dengan dia saja
Ku akui ku dulu memang pernah suka
Tapi biar kau dengannya, karena kau cinta dia
ARTIKEL MENINGKATKAN MINAT BACA
Membaca adalah salah satu kegiatan yang dilakukan seseorang untuk memperoleh ilmu pengetahuan maupun hiburan. Kegiatan ini biasa juga dilakukan sebagai metode pembelajaran, baik membaca di buku-buku yang dipinjam di perpustakaan atau yang bisa dibeli. Selain itu, juga dapat membaca informasi-informasi dari internet yang mudah diakses kapan saja dan dimana saja. Disamping itu, membaca juga sebagai media hiburan, bagi semua kalangan, baik anak kecil, remaja, sampai dewasapun melakukannya.
Di abad 21 ini, teknologi semakin canggih. Selain memiliki banyak dampak positifpun, ternyata dampak negatif dari teknologi juga banyak. Positifnya, dengan teknologi yang maju ini, kita dapat mengakses informasi apa saja dan ilmu pengetahuan yang dapat kita baca. Sedangkan negatifnya, dengan teknologi yang canggih ini, informasi tidak hanya dapat kita baca, tapi juga dapat kita dengarkan. Memang, hal ini sepertinya positif, tapi sesungguhnya hal inilah yang lebih diminati mayoritas orang, sehingga minat orang untuk membacapun semakin berkurang.
Orang cenderung lebih suka mendengarkan informasi, dengan alasan bahwa mendengarkan lebih efektif dan dapat disambi dengan melakukan kegiatan-kegiatan lainnya. Sedangkan untuk membaca, orang hanya harus terfokus pada sumber bacaan saja, tidak dapat dibarengi dengan kegiatan-kegiatan yang lainnya. Inilah yang menyebabkan turunnya minat membaca bagi sebagian besar orang, khususnya remaja. Remaja lebih cenderung memilih dan menyukai hal yang instan.
Pada dasarnya, membaca memiliki berbagai manfaat, seperti memperluas wawasan, melatih kekuatan dan daya ingat seseorang, melatih otot-otot mata, dan masih banyak lainnya. Meningkatkan minat atau keinginan untuk membaca pada dasarnya cukup mudah dan pastinya manfaat yang kita peroleh dari membacapun sangat berguna bagi kehidupan kita.
Minat membaca dapat kita pupuk, salah satunya dengan menanamkan pada diri kita bahwa “membaca itu asyik”. Apabila kita bisa menanamkan hal tersebut, maka pasti dengan sendirinya, saat kita membaca kita akan enjoy, merasa menikmati membaca, tidak bosan dan tidak jenuh. Dengan demikianpun, membaca dapat menjadi tempat refreshing kita.
Yang kedua, tanamkan dalam diri kita bahwa “membaca itu bermanfaat”, dengan demikian apapun yang kita baca, kita dapat memperoleh pengetahuan, wawasan, dan informasi yang belum kita ketahui sebelumnya, bahkan kita pun dapat memperoleh hiburan yang tentunya berbeda dengan hiburan-hiburan game. Dengan membaca, kita dapat terhibur dan memperoleh manfaat, yakni wawasan. Bandingkan dengan game, yang kita peroleh hanya hiburan saja, adapun dampaknya adalah membuat kita malas belajar dan menghabiskan tenaga serta waktu.
Yang ketiga, usahakan saat membaca kita dalam keadaan tenang dan nyaman, sehingga apa yang kita baca pun dapat direkam oleh otak kita dan tentunya berguna bagi kehidupan kita. Khususnya, menambah wawasan kita pula. Apabila kita dalam keadaan tidak tenang dan tidak nyaman (bad mood), pergunakanlah membaca sebagai salah satu hiburan kita atau pelampiasan kita. Jadi, walaupun kita sedang marah-marah, kemarahan kita tidak sia-sia dengan membaca, malahan akan hilang karena kita terlalu fokus terhadap membaca dan melupakan semua masalah kita. Kita tidak rugi, malahan kita untung, karena memperoleh manfaat dari membaca tersebut.
Yang terakhir, imajinasikanlah apa yang sedang dibaca, sehingga apa yang kita baca benar-benar direkam oleh otak kita. Ketahuilah, otak merupakan memori yang kapasitasnya paling besar di dunia. Ingatan masa kecil hingga dewasa pun masih terekam, termasuk apa yang kita baca dan kita pelajaripun pasti terekam dalam otak kita.
Di abad 21 ini, teknologi semakin canggih. Selain memiliki banyak dampak positifpun, ternyata dampak negatif dari teknologi juga banyak. Positifnya, dengan teknologi yang maju ini, kita dapat mengakses informasi apa saja dan ilmu pengetahuan yang dapat kita baca. Sedangkan negatifnya, dengan teknologi yang canggih ini, informasi tidak hanya dapat kita baca, tapi juga dapat kita dengarkan. Memang, hal ini sepertinya positif, tapi sesungguhnya hal inilah yang lebih diminati mayoritas orang, sehingga minat orang untuk membacapun semakin berkurang.
Orang cenderung lebih suka mendengarkan informasi, dengan alasan bahwa mendengarkan lebih efektif dan dapat disambi dengan melakukan kegiatan-kegiatan lainnya. Sedangkan untuk membaca, orang hanya harus terfokus pada sumber bacaan saja, tidak dapat dibarengi dengan kegiatan-kegiatan yang lainnya. Inilah yang menyebabkan turunnya minat membaca bagi sebagian besar orang, khususnya remaja. Remaja lebih cenderung memilih dan menyukai hal yang instan.
Pada dasarnya, membaca memiliki berbagai manfaat, seperti memperluas wawasan, melatih kekuatan dan daya ingat seseorang, melatih otot-otot mata, dan masih banyak lainnya. Meningkatkan minat atau keinginan untuk membaca pada dasarnya cukup mudah dan pastinya manfaat yang kita peroleh dari membacapun sangat berguna bagi kehidupan kita.
Minat membaca dapat kita pupuk, salah satunya dengan menanamkan pada diri kita bahwa “membaca itu asyik”. Apabila kita bisa menanamkan hal tersebut, maka pasti dengan sendirinya, saat kita membaca kita akan enjoy, merasa menikmati membaca, tidak bosan dan tidak jenuh. Dengan demikianpun, membaca dapat menjadi tempat refreshing kita.
Yang kedua, tanamkan dalam diri kita bahwa “membaca itu bermanfaat”, dengan demikian apapun yang kita baca, kita dapat memperoleh pengetahuan, wawasan, dan informasi yang belum kita ketahui sebelumnya, bahkan kita pun dapat memperoleh hiburan yang tentunya berbeda dengan hiburan-hiburan game. Dengan membaca, kita dapat terhibur dan memperoleh manfaat, yakni wawasan. Bandingkan dengan game, yang kita peroleh hanya hiburan saja, adapun dampaknya adalah membuat kita malas belajar dan menghabiskan tenaga serta waktu.
Yang ketiga, usahakan saat membaca kita dalam keadaan tenang dan nyaman, sehingga apa yang kita baca pun dapat direkam oleh otak kita dan tentunya berguna bagi kehidupan kita. Khususnya, menambah wawasan kita pula. Apabila kita dalam keadaan tidak tenang dan tidak nyaman (bad mood), pergunakanlah membaca sebagai salah satu hiburan kita atau pelampiasan kita. Jadi, walaupun kita sedang marah-marah, kemarahan kita tidak sia-sia dengan membaca, malahan akan hilang karena kita terlalu fokus terhadap membaca dan melupakan semua masalah kita. Kita tidak rugi, malahan kita untung, karena memperoleh manfaat dari membaca tersebut.
Yang terakhir, imajinasikanlah apa yang sedang dibaca, sehingga apa yang kita baca benar-benar direkam oleh otak kita. Ketahuilah, otak merupakan memori yang kapasitasnya paling besar di dunia. Ingatan masa kecil hingga dewasa pun masih terekam, termasuk apa yang kita baca dan kita pelajaripun pasti terekam dalam otak kita.
JANGAN SEPERTI INI
Mengingat waktu lama yang tanpa cinta
Melihat semuanya seolah biasa saja
Berbeda sungguh berbeda semuanya
Kini cinta muncul dan kau ungkapkannya
Bukan aku mau menyakiti hati dan dirimu
Tapi sungguh, aku belum menyukaimu
Aku masih ingin kita seperti dulu
Berteman, berkawan, tanpa cinta sesaatmu itu
*Maafkan aku, kamu jangan jadi seperti ini
*Ku tidak bisa liat kamu yang dulu lagi
*Kamu berbeda dan jangan jadi seperti ini
*Aku tak suka, sungguh tak suka bila kau begini
Kembalilah seperti yang dulu wahai temanku
Jangan pernah kotori lembaran persahabatan
Dengan cintamu, atau dengan keegoisanmu
Mari kita kembali seperti teman dan kawan
Melihat semuanya seolah biasa saja
Berbeda sungguh berbeda semuanya
Kini cinta muncul dan kau ungkapkannya
Bukan aku mau menyakiti hati dan dirimu
Tapi sungguh, aku belum menyukaimu
Aku masih ingin kita seperti dulu
Berteman, berkawan, tanpa cinta sesaatmu itu
*Maafkan aku, kamu jangan jadi seperti ini
*Ku tidak bisa liat kamu yang dulu lagi
*Kamu berbeda dan jangan jadi seperti ini
*Aku tak suka, sungguh tak suka bila kau begini
Kembalilah seperti yang dulu wahai temanku
Jangan pernah kotori lembaran persahabatan
Dengan cintamu, atau dengan keegoisanmu
Mari kita kembali seperti teman dan kawan
Minggu, 12 Februari 2012
WARNA DUNIA
Langit biru cerah yang indah
Matahari kuning sinari dunia
Awan yang putih hiasi angkasa
Pepohanan warna hijau daunnya
Pelangi tujuh warna terbit pula
Setelah hujan yang basahi tanah
Hiduppun selalu berwarna-warna
Kadang ada susah, juga ada suka
^Hiasi dunia dengan penuh warna
^Inilah warna dunia yang selalu berubah
^Jangan mudah menyerah dalam hidup di dunia
^Ikuti warna dunia dengan masa depan yang indah
Bersyukurlah dunia tak sewarna
Dunia memiliki banyak warna
Jalanilah warnamu hari ini
Warnamu esok hadapi sepenuh hati...
Matahari kuning sinari dunia
Awan yang putih hiasi angkasa
Pepohanan warna hijau daunnya
Pelangi tujuh warna terbit pula
Setelah hujan yang basahi tanah
Hiduppun selalu berwarna-warna
Kadang ada susah, juga ada suka
^Hiasi dunia dengan penuh warna
^Inilah warna dunia yang selalu berubah
^Jangan mudah menyerah dalam hidup di dunia
^Ikuti warna dunia dengan masa depan yang indah
Bersyukurlah dunia tak sewarna
Dunia memiliki banyak warna
Jalanilah warnamu hari ini
Warnamu esok hadapi sepenuh hati...
BERKATALAH
Diam-diam mengikuti diriku
Dan perlahan sembunyi dari aku
Pelan-pelan muncul dihadapanku
Mengapa sungguh herankan aku
Ku pikir kamu cuma temanku
Ternyata pendam hal tak ku tahu
Berkatalah jujur kepadaku
Jangan berkata dibelakangku
*Kalau kamu suka, berkatalah saja
*Kalau kamu marah, berkatalah...
^Jujur saja, kamu berbeda dari yang lainnya
^Jujur saja, kau buat aku penasaran karena
^Sikap dan sifatmu itu, berkatalah, katakanlah
^Apa yang kau rasa, apa isi hatimu sesungguhnya
Bukankah kita sudah kenal lama
Tapi mengapa kamu tidak bicara
Aku siap dengarkan kata-katamu
Aku siap menerima semua darimu
Dan perlahan sembunyi dari aku
Pelan-pelan muncul dihadapanku
Mengapa sungguh herankan aku
Ku pikir kamu cuma temanku
Ternyata pendam hal tak ku tahu
Berkatalah jujur kepadaku
Jangan berkata dibelakangku
*Kalau kamu suka, berkatalah saja
*Kalau kamu marah, berkatalah...
^Jujur saja, kamu berbeda dari yang lainnya
^Jujur saja, kau buat aku penasaran karena
^Sikap dan sifatmu itu, berkatalah, katakanlah
^Apa yang kau rasa, apa isi hatimu sesungguhnya
Bukankah kita sudah kenal lama
Tapi mengapa kamu tidak bicara
Aku siap dengarkan kata-katamu
Aku siap menerima semua darimu
HARI ITU
Tak akan pernah terlupa hari itu
Di saat kita bersama dan bersatu
Tak akan pernah kulupa semua itu
Yang kini berbeda dengan yang dulu
Saat-saat kedamaian yang pernah ada
Saat-saat tertawa dan juga gembira
Selama waktu itu, dan kini tlah tiada
Masihkah kau ingat ataukah kau lupa
*Andai saja dapat aku kembali lagi
*Ke masa itu ke hari itu, cerita itu
*Andai saja suatu saat nanti
*Tinggal masa kini kembali ke hari itu
Malam-malam yang dulu tanpa kesedihan
Malam-malam yang selalu ada kegembiraan
Kini semua berlalu, berbeda, dan berakhir
Karena semuanya hanya ada di hari itu
*Mengucapkan kata berpisah pun tak ada
*Ucapkan mengapa di hari itu
*Ketika semuanya telah tiada
*Masih kuingat, di hari itu
Di saat kita bersama dan bersatu
Tak akan pernah kulupa semua itu
Yang kini berbeda dengan yang dulu
Saat-saat kedamaian yang pernah ada
Saat-saat tertawa dan juga gembira
Selama waktu itu, dan kini tlah tiada
Masihkah kau ingat ataukah kau lupa
*Andai saja dapat aku kembali lagi
*Ke masa itu ke hari itu, cerita itu
*Andai saja suatu saat nanti
*Tinggal masa kini kembali ke hari itu
Malam-malam yang dulu tanpa kesedihan
Malam-malam yang selalu ada kegembiraan
Kini semua berlalu, berbeda, dan berakhir
Karena semuanya hanya ada di hari itu
*Mengucapkan kata berpisah pun tak ada
*Ucapkan mengapa di hari itu
*Ketika semuanya telah tiada
*Masih kuingat, di hari itu
Jumat, 10 Februari 2012
KATA SEORANG BUNDA
Dalam kehidupanmu, ingatlah selalu pada Penciptamu
Bila kamu mendapat kegembiraan, bersyukurlah pada-Nya
Bila kamu mendapat kesusahan, minta kekuatan pada-Nya
Dan bersyukurlah, karena dengan kesusahan kamu kuat
Bila ada seseorang yang memojokkanmu, bertekunlah
Sabarlah dalam menghadapi semuanya, doakan dia
Karena Tuhan mengijinkan semuanya terjadi
Tuhan punya maksud dan tujuan yang indah akhirnya
Bila seseorang membahagiakanmu, bersyukurlah karenanya
Doakan dia agar dia juga tetap jadi berkat bagi sekelilingnya
Bila ada seseorang mengeluh padamu tentang hidupnya
Kuatkan dia, doakan pergumulannya, agar kau jadi berkat
Bila dunia ini gelap, hendaklah kau jadi terang
Jadi pembawa sukacita dan kedamaian bagi dunia
Semua bagi sang Pencipta, bersyukur pada-Nya
Lakukan segala sesuatu untuk memuliakan namap-Nya
Syukuri hidupmu, jangan pandang orang lain yang di atasmu
Syukuri hidupmu, jangan mengingini apa yang tak kau miliki
Syukuri keadaanmu, jangan pernah malu mengakui kondisimu
tetap bersyukur, berdoa, dan berserah kepada Tuhan
-Semoga jadi berkat-
Bila kamu mendapat kegembiraan, bersyukurlah pada-Nya
Bila kamu mendapat kesusahan, minta kekuatan pada-Nya
Dan bersyukurlah, karena dengan kesusahan kamu kuat
Bila ada seseorang yang memojokkanmu, bertekunlah
Sabarlah dalam menghadapi semuanya, doakan dia
Karena Tuhan mengijinkan semuanya terjadi
Tuhan punya maksud dan tujuan yang indah akhirnya
Bila seseorang membahagiakanmu, bersyukurlah karenanya
Doakan dia agar dia juga tetap jadi berkat bagi sekelilingnya
Bila ada seseorang mengeluh padamu tentang hidupnya
Kuatkan dia, doakan pergumulannya, agar kau jadi berkat
Bila dunia ini gelap, hendaklah kau jadi terang
Jadi pembawa sukacita dan kedamaian bagi dunia
Semua bagi sang Pencipta, bersyukur pada-Nya
Lakukan segala sesuatu untuk memuliakan namap-Nya
Syukuri hidupmu, jangan pandang orang lain yang di atasmu
Syukuri hidupmu, jangan mengingini apa yang tak kau miliki
Syukuri keadaanmu, jangan pernah malu mengakui kondisimu
tetap bersyukur, berdoa, dan berserah kepada Tuhan
-Semoga jadi berkat-
PIALA UNTUK SANG PAHLAWAN
Pagi ini, aku bangun kesiangan. Aku segera menyiapkan diri untuk pergi ke sekolah. Tanpa sarapan, aku berangkat, menaiki angkot dan akhirnya tiba di sekolahan dengan keadaan gerbang sekolah yang sudah tertutup. Jelas saja, aku terlambat. Arlojiku menunjukkan pukul 07.15, sedangkan sekolahku masuk jam 07.00.
“Hei, Avia.. Cepat masuk! Isi surat keterangan terlambatmu dan cepat minta ijin untuk masuk kelas kepada guru piket.”, kata satpam sekolah kepadaku. Ini pertama kalinya aku terlambat semenjak duduk di bangku SMA, di SMAN 1 Malang ini. Aku bergegas ke guru piket dan meminta ijin agar aku dapat masuk kelas dan mengikuti pelajaran kembali.
Setiba di kelas, semua murid di kelasku tercengang, mengapa seorang Avia Martha Levisa, yakni aku, yang rajin, tekun, cerdas, dan disiplin bisa terlambat datang ke sekolah. Padahal sebelumnya, aku selalu menjadi murid pertama yang tiba di kelas, entah mengapa, hari ini aku bisa terlambat. Mungkin, sudah takdir Tuhan kalau hari ini aku bisa terlambat. Biarlah, ini bisa jadi pengalaman untukku.
Bu Fira, guru biologi, yang saat itu mengajar di kelasku pun heran, mengapa aku bisa terlambat. Tapi herannya, Bu Fira yang terkenal cuek, killer, tegas, dan disiplin itu sama sekali tidak memarahiku. Malahan beliau bertanya, mengapa aku bisa sampai terlambat dan beliau memberitahuku, bahwa beliau merekomendasikan aku sebagai salah satu peserta Olimpiade Biologi di Universitas Gajah Mada Jogjakarta bersama ketiga murid lainnya, yakni Zefri, Hanna, dan Dani, yang sudah terbiasa mengikuti dan memenangkan Olimpiade Biologi.
“Apa Bu? Saya mengikuti Olimpiade Biologi? Saya gak yakin bisa menang, Bu, saya sulit menghafal. Kalau Zefri, Yerza, dan Dani memang sudah berkecimpung di dunia biologi, Bu.”, kataku dengan kaget dan terkejut.
“Kamu pasti bisa, Via. Sebagai bimbingan, datanglah ke rumah Ibu setiap sore.”, kata Bu Fira meyakinkanku. Baiklah, akan aku coba, mungkin ini juga salah satu jalan Sang Kuasa pula. Apa salahnya mencoba, syukur kalau aku bisa menang, tapi kalaupun tidak menang juga tidak masalah. Aku hanya akan berusaha semaksimal mungkin, sesuai kemampuanku.
Sore harinya, aku pergi ke rumah Bu Fira dengan mengendarai sepeda motor tua peninggalan ayahku. Aku mengetuk pintu rumah Bu Fira, namun tiada yang membuka. Sekali lagi aku ketuk, tetap tiada yang membuka. Rumahnya sangat sepi, tiada tetangga di sebelah kanan dan kiri, bagaikan di tengah hutan saja. Tiba-tiba seseorang membukakan pintu, wajahnya pucat pasi. Tak ku sangka, itu Bu Fira. Beliau nampak sangat lelah.
“Sore Avia, maaf Ibu lama membukakan pintunya, karena sedang menyiapkan makanan.”, kata Bu Fira padaku sambil mempersilahkan aku masuk ke rumahnya. Aku masuk dan duduk di ruang tamu beliau. Rumah Bu Fira sangat sepi, tidak ada orang lain selain Bu Fira sendiri. Rumahnya sangat sederhana, berlantaikan keramik putih, dan sungguh rapi serta bersih, hanya ada ruang tamu dengan sebuah televisi dan meja belajar, dua kamar tidur, satu kamar mandi, dan dapur yang sempit.
Bu Fira mulai membimbingku untuk belajar biologi, mempelajari semua materi biologi, khusunya yang biasa keluar pada olimpiade-olimpiade biologi. Hari itu hanya aku dan Bu Fira saja, Zefri, Yerza, dan Dani tidak hadir, entah mengapa, tidak ada pemberitahuan dari mereka.
Setiap sore, mulai pukul 16.00-18.00, aku selalu berada di rumah Bu Fira untuk belajar biologi. Sehingga, semakin hari pun, aku semakin menyukai biologi, dan juga semakin percaya diri bahwa aku dapat memenangkan Olimpiade Biologi Universitas Gajah Mada tersebut. Ini sudah Bulan Februari, sudah sebulan Bu Fira membimbingku. Yang aku herankan, selama sebulan ini, aku hanya melihat Bu Fira sendirian saja, tanpa anak dan tanpa suami. Sampai suatu kali, rasa penasaranku memuncak, dan aku bertanya pada beliau.
“Bu, Ibu hanya sendirian sajakah di rumah?”, tanyaku dengan penasaran.
“Ya, ibu seorang diri di rumah.”
“Maaf Bu, kalau boleh tau, dimana anak dan suami Ibu?”
Dengan menghela nafas panjang, Bu Fira mulai menceritakan semuanya. Rasa penasaranku pun perlahan mulai hilang, seolah cerita Bu Fira mengikis rasa penasaran dalam benakku itu. Ternyata Bu Fira bercerai dengan suaminya, sudah 2 tahun dan anak Bu Fira, putra tunggal Bu Fira, sebut saja Ardiant, sedang kuliah di Universitas Gajah Mada Jogjakarta. Sehingga Bu Fira pun sendirian di rumah.
Aku pun merasa demikian di rumah, aku merasa apa yang dirasakan oleh Bu Fira, di rumahku, hanya ada aku dan kakakku saja. Ibuku bekerja sebagai TKW di Jepang, sedangkan ayahku sudah meninggal ketika aku berumur 12 tahun. Hanya kakakku saja yang menemani aku, itupun hanya saat malam hari, ketika kakakku sudah pulang kerja. Kakakku bekerja sebagai pelayan di salah satu toko obat di Malang. Aku menceritakan itu pada Bu Fira. Bu Fira menguatkan aku dan begitupun aku, aku menguatkan Bu Fira pula.
Waktu demi waktu berjalan, aku dan Bu Fira seperti seorang anak dan ibu. Bu Fira mampu memahami aku, akupun begitu. Akhirnya, sudah tiba waktunya. Sudah tanggal 14 April, Olimpiade Biologi dimulai tanggal 16 April. Tanggal 14 April malam, aku, Bu Fira, Zefri, Yerza, dan Dani berangkat menuju Jogjakarta dengan menaiki mobil sekolah.
Akhirnya, tiba saatnya. Kini sudah tanggal 16 April, kami ke Universitas Gajah Mada. Sebelumnya, kami berdoa agar setidaknya kami bisa meraih juara pada Olimpiade Biologi ini. Olimpiade pun dimulai, Bu Fira menunggu di depan ruanganku. Perlahan, aku mulai membaca dan menjawab soal-soal yang disuguhkan. Apa yang telah diberikan Bu Fira selama membimbingku, banyak keluar dalam soal olimpiade ini. Aku pun dapat mengerjakan seluruh soal ini, walau ada yang ragu, tapi aku berusaha semampuku.
Aku keluar dari ruangan dengan wajah yang berseri, Bu Fira menatapku sambil tersenyum pula. Aku melihat seorang laki-laki yang tampan, tinggi dan putih dengan kemeja putih dan membawa sebuah tas ransel berwarna hitam di sebelah Bu Fira.
“Via, kenalkan, ini Ardi, anak Ibu.”, kata Bu Fira.
Aku dan Ardi pun saling bersalaman dan berkenalan. Aku tidak menyangka, anak Bu Fira sunggun ramah, tidak seperti Bu Fira yang dikenal cuek oleh seluruh murid di sekolahku. Zefri, Yerza, dan Dani pun menghampiri kami. Sambil menunggu pengumuman, kami makan di kantin dan bercerita tentang keadaan perlombaan tadi.
“Anak-anak, Ibu pergi dulu ke tempat kost Ardi ya, kalian tunggu pengumuman di sini. Kalau selesai, pulang saja bersama mobil dinas sekolah. Mungkin Ibu tidak ikut pulang bersama kalian ke Malang. Mungkin baru besok lusa Ibu kembali ke Malang”, kata Bu Fira.
“Ya sudah Bu, nanti kami kabari hasil perlombaanya.”, kata Zefri.
“Ok, semoga sukses ya. Daa..!!”, kata Bu Fira.
Ardiant dan Bu Fira pun pergi, meninggalkanku dan kawan-kawanku. Ketika pengumuman tiba pun, Bu Fira tidak kembali. Akhirnya, diumumkanlah pemenang dari Olimpiade Biologi tersebut.
“Juara Harapan III dimenangkan oleh Setia Purnomo dari SMAN 1 Yogyakarta. Juara Harapan II oleh Yetty Amaliyah dari SMA Semesta Semarang. Juara Harapan 1 oleh Avia Martha Levisa dari SMAN 1 Malang.”, kata panitia yang mengumumkan.
“Selamat ya Via, kamu dapat harapan satu.”, kata Zefri.
“Ya, sama-sama. Tenang aja, kamu pasti bisa dapat juara juga. Masih ada juara I, II, dan III kok. Aku yakin, diantara kamu dan kawan-kawan, pasti ada yang menang.”, kataku.
“Juara III dimenangkan oleh Reza Feriahmad dari SMAN 1 Surabaya. Juara II dimenangkan oleh Zaskia Yezra Widya dari SMAN 1 Malang. Dan, juara I dimenangkan oleh Zefri Wicaksono dari SMAN 1 Malang juga. Bagi seluruh pemenang, harap naik ke atas panggung dan menerima piagam, trophy, souvenir dan hadiah.”, kata panitia.
Aku, Yerza, dan Zefri pun naik ke panggung dan menerima hadiah. Setelah itu kami pulang kembali menuju Malang, tanpa Bu Fira. Di perjalanan, aku menelpon Bu Fira.
“Halo, Selamat sore Bu Fira.”, ucapku.
“Selamat sore Via, gimana tadi? Menang?”
“Ya Bu, Puji Tuhan, wakil dari SMAN 1 Malang bisa dapat juara. Saya juara harapan I, Yezra juara II, dan Zefri juara I.”
“Allhamdulilah ya, tetap pertahankan prestasi saja.”, kata Bu Fira.
Kata-kata Bu Fira membuatku semakin senang, karena aku yang memiliki basic biologi lemah, dilatih dan dibimbing oleh Bu Fira hingga akhirnya aku bisa menang. Walau hanya juara harapan I, tapi itu pun jadi suatu penghargaan buat aku.
Upacara bendera Hari Kartini, 21 April, di sekolahku jadi momentum bagiku dan kawan-kawan untuk memberikan piala yang kami raih di olimpiade Biologi. Namun, aku sama sekali tidak melihat Bu Fira. Padahal ini sudah 5 hari setelah perlombaan, harusnya Bu Fira sudah kembali ke Malang. Aku ingin memberikan piala ini pada Bu Fira sebagai ucapan terimakasih karena sudah membimbingku selama ini. Tapi, aku sama sekali tidak melihat Beliau, bagai ditelan bumi saja. Ideku pun, ingin bertanya pada TU.
“Ibu, Bu Fira ke mana ya? Kok tidak masuk sekolah.”, tanyaku pada pegawai TU.
“Loh, Bu Fira kan sudah meninggal? Kamu tidak tau kah? Kemarin kan sudah diumumkan.”, jawab beliau.
“Apa Bu? Meninggal? Gak mungkin Bu.”
Aku berlari menuju kelas dan menangis. Seolah tak percaya kalau Bu Fira meninggal. Terang saja aku kaget mendengar kabar tersebut, karena kemarin pun aku tidak ada di sekolah karena dispen bimbingan Biologi di Dinas Pendidikan dan sama sekali tidak ada kabar dari teman-temanku.
Pulang sekolah, aku menuju ke rumah Bu Fira, seperti biasa, rumahnya sepi. Dari jendela, ku intip ada sesosok laki-laki. Mungkin itu Ardi atau kerabat dari Bu Fira.
“Permisi.. Ada orang di dalam?”, kataku sambil mengetuk pintu.
“Ya, sebentar.”, jawab seseorang laki-laki dari dalam rumah dan membukakan pintu untukku.
“Kak Ardi?”
“Ya, kalau kamu mencari ibuku, beliau sudah meninggal, sudah ada di dalam kuburnya. Di tempat pemakaman umum desa sebelah.”, katanya.
“Jadi benar apa yang dikatakan Bu TU? Kenapa bisa?”, kataku dengan menangis.
“Sepulang dari Yogyakarta menuju Malang, kami menaiki bus umum. Kemudian bus yang kami tumpangi mengalami kecelakaan. Ibu terjepit, karena ibu duduk di pojok kiri. Ibu hanya bilang, selamatkan dirimu, jadi orang yang sukses, dan salam untukmu, Via.”, Kak Ardi menjelaskannya dengan tetesan air mata.
Begitupun aku, mendengarkan kejadian tersebut, rasanya hatiku hancur lebur. Air mataku perlahan meledak, menetes, merasakan kehilangan sosok Bu Fira yang baik hati, yang seperti ibuku sendiri, yang membimbingku hingga meraih juara olimpiade biologi.
“Ayo, kita ke makam Ibu.”, ajak Kak Ardi.
Aku mengangguk dan pergi bersamanya ke makam Bu Fira. Kami meletakkan karangan bunga melati, berwarna putih, yang melambangkan ketulusan Bu Fira. Selain itu, aku juga meletakkan pialaku di samping bunga tersebut dan juga berdoa agar arwah beliau diterima oleh Tuhan, Sang Pencipta.
Hatiku berkata, “Selamat jalan Bu Fira, pahlawanku. Trimakasih untuk bimbingannya.”
-END-
“Hei, Avia.. Cepat masuk! Isi surat keterangan terlambatmu dan cepat minta ijin untuk masuk kelas kepada guru piket.”, kata satpam sekolah kepadaku. Ini pertama kalinya aku terlambat semenjak duduk di bangku SMA, di SMAN 1 Malang ini. Aku bergegas ke guru piket dan meminta ijin agar aku dapat masuk kelas dan mengikuti pelajaran kembali.
Setiba di kelas, semua murid di kelasku tercengang, mengapa seorang Avia Martha Levisa, yakni aku, yang rajin, tekun, cerdas, dan disiplin bisa terlambat datang ke sekolah. Padahal sebelumnya, aku selalu menjadi murid pertama yang tiba di kelas, entah mengapa, hari ini aku bisa terlambat. Mungkin, sudah takdir Tuhan kalau hari ini aku bisa terlambat. Biarlah, ini bisa jadi pengalaman untukku.
Bu Fira, guru biologi, yang saat itu mengajar di kelasku pun heran, mengapa aku bisa terlambat. Tapi herannya, Bu Fira yang terkenal cuek, killer, tegas, dan disiplin itu sama sekali tidak memarahiku. Malahan beliau bertanya, mengapa aku bisa sampai terlambat dan beliau memberitahuku, bahwa beliau merekomendasikan aku sebagai salah satu peserta Olimpiade Biologi di Universitas Gajah Mada Jogjakarta bersama ketiga murid lainnya, yakni Zefri, Hanna, dan Dani, yang sudah terbiasa mengikuti dan memenangkan Olimpiade Biologi.
“Apa Bu? Saya mengikuti Olimpiade Biologi? Saya gak yakin bisa menang, Bu, saya sulit menghafal. Kalau Zefri, Yerza, dan Dani memang sudah berkecimpung di dunia biologi, Bu.”, kataku dengan kaget dan terkejut.
“Kamu pasti bisa, Via. Sebagai bimbingan, datanglah ke rumah Ibu setiap sore.”, kata Bu Fira meyakinkanku. Baiklah, akan aku coba, mungkin ini juga salah satu jalan Sang Kuasa pula. Apa salahnya mencoba, syukur kalau aku bisa menang, tapi kalaupun tidak menang juga tidak masalah. Aku hanya akan berusaha semaksimal mungkin, sesuai kemampuanku.
Sore harinya, aku pergi ke rumah Bu Fira dengan mengendarai sepeda motor tua peninggalan ayahku. Aku mengetuk pintu rumah Bu Fira, namun tiada yang membuka. Sekali lagi aku ketuk, tetap tiada yang membuka. Rumahnya sangat sepi, tiada tetangga di sebelah kanan dan kiri, bagaikan di tengah hutan saja. Tiba-tiba seseorang membukakan pintu, wajahnya pucat pasi. Tak ku sangka, itu Bu Fira. Beliau nampak sangat lelah.
“Sore Avia, maaf Ibu lama membukakan pintunya, karena sedang menyiapkan makanan.”, kata Bu Fira padaku sambil mempersilahkan aku masuk ke rumahnya. Aku masuk dan duduk di ruang tamu beliau. Rumah Bu Fira sangat sepi, tidak ada orang lain selain Bu Fira sendiri. Rumahnya sangat sederhana, berlantaikan keramik putih, dan sungguh rapi serta bersih, hanya ada ruang tamu dengan sebuah televisi dan meja belajar, dua kamar tidur, satu kamar mandi, dan dapur yang sempit.
Bu Fira mulai membimbingku untuk belajar biologi, mempelajari semua materi biologi, khusunya yang biasa keluar pada olimpiade-olimpiade biologi. Hari itu hanya aku dan Bu Fira saja, Zefri, Yerza, dan Dani tidak hadir, entah mengapa, tidak ada pemberitahuan dari mereka.
Setiap sore, mulai pukul 16.00-18.00, aku selalu berada di rumah Bu Fira untuk belajar biologi. Sehingga, semakin hari pun, aku semakin menyukai biologi, dan juga semakin percaya diri bahwa aku dapat memenangkan Olimpiade Biologi Universitas Gajah Mada tersebut. Ini sudah Bulan Februari, sudah sebulan Bu Fira membimbingku. Yang aku herankan, selama sebulan ini, aku hanya melihat Bu Fira sendirian saja, tanpa anak dan tanpa suami. Sampai suatu kali, rasa penasaranku memuncak, dan aku bertanya pada beliau.
“Bu, Ibu hanya sendirian sajakah di rumah?”, tanyaku dengan penasaran.
“Ya, ibu seorang diri di rumah.”
“Maaf Bu, kalau boleh tau, dimana anak dan suami Ibu?”
Dengan menghela nafas panjang, Bu Fira mulai menceritakan semuanya. Rasa penasaranku pun perlahan mulai hilang, seolah cerita Bu Fira mengikis rasa penasaran dalam benakku itu. Ternyata Bu Fira bercerai dengan suaminya, sudah 2 tahun dan anak Bu Fira, putra tunggal Bu Fira, sebut saja Ardiant, sedang kuliah di Universitas Gajah Mada Jogjakarta. Sehingga Bu Fira pun sendirian di rumah.
Aku pun merasa demikian di rumah, aku merasa apa yang dirasakan oleh Bu Fira, di rumahku, hanya ada aku dan kakakku saja. Ibuku bekerja sebagai TKW di Jepang, sedangkan ayahku sudah meninggal ketika aku berumur 12 tahun. Hanya kakakku saja yang menemani aku, itupun hanya saat malam hari, ketika kakakku sudah pulang kerja. Kakakku bekerja sebagai pelayan di salah satu toko obat di Malang. Aku menceritakan itu pada Bu Fira. Bu Fira menguatkan aku dan begitupun aku, aku menguatkan Bu Fira pula.
Waktu demi waktu berjalan, aku dan Bu Fira seperti seorang anak dan ibu. Bu Fira mampu memahami aku, akupun begitu. Akhirnya, sudah tiba waktunya. Sudah tanggal 14 April, Olimpiade Biologi dimulai tanggal 16 April. Tanggal 14 April malam, aku, Bu Fira, Zefri, Yerza, dan Dani berangkat menuju Jogjakarta dengan menaiki mobil sekolah.
Akhirnya, tiba saatnya. Kini sudah tanggal 16 April, kami ke Universitas Gajah Mada. Sebelumnya, kami berdoa agar setidaknya kami bisa meraih juara pada Olimpiade Biologi ini. Olimpiade pun dimulai, Bu Fira menunggu di depan ruanganku. Perlahan, aku mulai membaca dan menjawab soal-soal yang disuguhkan. Apa yang telah diberikan Bu Fira selama membimbingku, banyak keluar dalam soal olimpiade ini. Aku pun dapat mengerjakan seluruh soal ini, walau ada yang ragu, tapi aku berusaha semampuku.
Aku keluar dari ruangan dengan wajah yang berseri, Bu Fira menatapku sambil tersenyum pula. Aku melihat seorang laki-laki yang tampan, tinggi dan putih dengan kemeja putih dan membawa sebuah tas ransel berwarna hitam di sebelah Bu Fira.
“Via, kenalkan, ini Ardi, anak Ibu.”, kata Bu Fira.
Aku dan Ardi pun saling bersalaman dan berkenalan. Aku tidak menyangka, anak Bu Fira sunggun ramah, tidak seperti Bu Fira yang dikenal cuek oleh seluruh murid di sekolahku. Zefri, Yerza, dan Dani pun menghampiri kami. Sambil menunggu pengumuman, kami makan di kantin dan bercerita tentang keadaan perlombaan tadi.
“Anak-anak, Ibu pergi dulu ke tempat kost Ardi ya, kalian tunggu pengumuman di sini. Kalau selesai, pulang saja bersama mobil dinas sekolah. Mungkin Ibu tidak ikut pulang bersama kalian ke Malang. Mungkin baru besok lusa Ibu kembali ke Malang”, kata Bu Fira.
“Ya sudah Bu, nanti kami kabari hasil perlombaanya.”, kata Zefri.
“Ok, semoga sukses ya. Daa..!!”, kata Bu Fira.
Ardiant dan Bu Fira pun pergi, meninggalkanku dan kawan-kawanku. Ketika pengumuman tiba pun, Bu Fira tidak kembali. Akhirnya, diumumkanlah pemenang dari Olimpiade Biologi tersebut.
“Juara Harapan III dimenangkan oleh Setia Purnomo dari SMAN 1 Yogyakarta. Juara Harapan II oleh Yetty Amaliyah dari SMA Semesta Semarang. Juara Harapan 1 oleh Avia Martha Levisa dari SMAN 1 Malang.”, kata panitia yang mengumumkan.
“Selamat ya Via, kamu dapat harapan satu.”, kata Zefri.
“Ya, sama-sama. Tenang aja, kamu pasti bisa dapat juara juga. Masih ada juara I, II, dan III kok. Aku yakin, diantara kamu dan kawan-kawan, pasti ada yang menang.”, kataku.
“Juara III dimenangkan oleh Reza Feriahmad dari SMAN 1 Surabaya. Juara II dimenangkan oleh Zaskia Yezra Widya dari SMAN 1 Malang. Dan, juara I dimenangkan oleh Zefri Wicaksono dari SMAN 1 Malang juga. Bagi seluruh pemenang, harap naik ke atas panggung dan menerima piagam, trophy, souvenir dan hadiah.”, kata panitia.
Aku, Yerza, dan Zefri pun naik ke panggung dan menerima hadiah. Setelah itu kami pulang kembali menuju Malang, tanpa Bu Fira. Di perjalanan, aku menelpon Bu Fira.
“Halo, Selamat sore Bu Fira.”, ucapku.
“Selamat sore Via, gimana tadi? Menang?”
“Ya Bu, Puji Tuhan, wakil dari SMAN 1 Malang bisa dapat juara. Saya juara harapan I, Yezra juara II, dan Zefri juara I.”
“Allhamdulilah ya, tetap pertahankan prestasi saja.”, kata Bu Fira.
Kata-kata Bu Fira membuatku semakin senang, karena aku yang memiliki basic biologi lemah, dilatih dan dibimbing oleh Bu Fira hingga akhirnya aku bisa menang. Walau hanya juara harapan I, tapi itu pun jadi suatu penghargaan buat aku.
Upacara bendera Hari Kartini, 21 April, di sekolahku jadi momentum bagiku dan kawan-kawan untuk memberikan piala yang kami raih di olimpiade Biologi. Namun, aku sama sekali tidak melihat Bu Fira. Padahal ini sudah 5 hari setelah perlombaan, harusnya Bu Fira sudah kembali ke Malang. Aku ingin memberikan piala ini pada Bu Fira sebagai ucapan terimakasih karena sudah membimbingku selama ini. Tapi, aku sama sekali tidak melihat Beliau, bagai ditelan bumi saja. Ideku pun, ingin bertanya pada TU.
“Ibu, Bu Fira ke mana ya? Kok tidak masuk sekolah.”, tanyaku pada pegawai TU.
“Loh, Bu Fira kan sudah meninggal? Kamu tidak tau kah? Kemarin kan sudah diumumkan.”, jawab beliau.
“Apa Bu? Meninggal? Gak mungkin Bu.”
Aku berlari menuju kelas dan menangis. Seolah tak percaya kalau Bu Fira meninggal. Terang saja aku kaget mendengar kabar tersebut, karena kemarin pun aku tidak ada di sekolah karena dispen bimbingan Biologi di Dinas Pendidikan dan sama sekali tidak ada kabar dari teman-temanku.
Pulang sekolah, aku menuju ke rumah Bu Fira, seperti biasa, rumahnya sepi. Dari jendela, ku intip ada sesosok laki-laki. Mungkin itu Ardi atau kerabat dari Bu Fira.
“Permisi.. Ada orang di dalam?”, kataku sambil mengetuk pintu.
“Ya, sebentar.”, jawab seseorang laki-laki dari dalam rumah dan membukakan pintu untukku.
“Kak Ardi?”
“Ya, kalau kamu mencari ibuku, beliau sudah meninggal, sudah ada di dalam kuburnya. Di tempat pemakaman umum desa sebelah.”, katanya.
“Jadi benar apa yang dikatakan Bu TU? Kenapa bisa?”, kataku dengan menangis.
“Sepulang dari Yogyakarta menuju Malang, kami menaiki bus umum. Kemudian bus yang kami tumpangi mengalami kecelakaan. Ibu terjepit, karena ibu duduk di pojok kiri. Ibu hanya bilang, selamatkan dirimu, jadi orang yang sukses, dan salam untukmu, Via.”, Kak Ardi menjelaskannya dengan tetesan air mata.
Begitupun aku, mendengarkan kejadian tersebut, rasanya hatiku hancur lebur. Air mataku perlahan meledak, menetes, merasakan kehilangan sosok Bu Fira yang baik hati, yang seperti ibuku sendiri, yang membimbingku hingga meraih juara olimpiade biologi.
“Ayo, kita ke makam Ibu.”, ajak Kak Ardi.
Aku mengangguk dan pergi bersamanya ke makam Bu Fira. Kami meletakkan karangan bunga melati, berwarna putih, yang melambangkan ketulusan Bu Fira. Selain itu, aku juga meletakkan pialaku di samping bunga tersebut dan juga berdoa agar arwah beliau diterima oleh Tuhan, Sang Pencipta.
Hatiku berkata, “Selamat jalan Bu Fira, pahlawanku. Trimakasih untuk bimbingannya.”
-END-
Langganan:
Postingan (Atom)


